Home » » Pendekatan Proses dan Pendekatan Keterampilan Proses

Pendekatan Proses dan Pendekatan Keterampilan Proses

Written By Altri Ramadoni on 25 August 2016 | 00:28



Postingan berikut akan membahas tentang Pendekatan Proses dan Pendekatan Keterampilan Proses. Ini merupakan judul tugas pengembangan evaluasi pembelajaran fisika yang berjudul Proses Skill. Sebelumnya kita telah membahas mengenai Assesmen Literacy. Assesmen tentu memiliki pendekatan serta keterampilan untuk melakukannya. Untuk itulah perlu ada kajian mengenai hal ini. Jika pembaca ingin makalah lengkapnya silakan hubungi penulis lewat menu KONTAK atau langsung ke FB penulis. Semoga bermanfaat

 


BAB II
KAJIAN TEORI

A. Pendekatan Proses Vs Pendekatan Keterampilan Proses
1. Hakikat Pendekatan Proses
Istilah “Proses” diartikan sebagai urutan dari beberapa kegiatan atau suatu set kegiatan yang memerlukan sumber daya sehingga dapat mengubah input menjadi output yang sesuai perencanaan. Dengan demikian, pendekatan proses merupakan suatu pendekatan yang digunakan untuk mengubah suatu tujuan menjadi sebuah hasil yang diinginkan

Dalam bidang pendidikan, Lihin (2001) berpendapat bahwa Pendekatan proses merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan pada proses belajar: aktivitas dan kreatifitas peserta didik dalam memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai, sikap, dan menerapkannya dalam kehidupan. Hal ini berarti bahwa pembelajaran melibatkan fisik, mental dan social peserta didik, untuk mencapai suatu tujuan. Singkatnya, pendekatan proses didefinisikan sebagai suatu pendekatan dalam pengajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat aktif dalam proses penemuan suatu konsep sebagai suatu keterampilan.

a. Proses mengalami.
Dengan proses mengalami, maka pendidikan akan menjadi bagian integral bagi diri peserta didik; bukan lagi potongan-potongan pengalaman yang disodorkan untuk diterima, yang sebenarnya bukan miliknya sendiri. Untuk menjadikan peristiwa belajar sebagai proses mengalami, tentu harus dipikirkan cara atau metode yang sesuai. Pola pengajaran yang selama ini dilakukan, di mana guru dan peserta didik atau peserta didik dengan peserta didik lain saling berjarak, harus ditinggalkan. Pola pengajaran yang lebih interaktif, yang melibatkan peran serta lebih besar dari peserta didik harus mulai dikembangkan.

b. Proses menemukan.
Dengan menemukan sendiri, pemahaman peserta didik tentang materi pelajaran pun lebih utuh dan akan bertahan lebih lama dibandingkan jika peserta didik menghafalkan materi tersebut. Proses menemukan ini juga akan memberikan satu kebanggaan sekaligus rangsangan untuk kembali berproses dan menemukan yang lebih banyak lagi

2. Hakikat Pendekatan Keterampilan Proses (PKP)
a. Pengertian PKP
  1. Rustaman (2007), keterampilan proses melibatkan keterampilan-keterampilan kognitif atau intelektual, manual, sosial.
  2. Suparti dan Budiastra (2008) mengungkapkan bahwa pendekatan keterampilan proses yaitu pendekatan yang menekankan pada fakta dan pendekatan konsep yang digunakan dalam pembelajaran IPA yang didasarkan pada langkah kegiatan dalam menguji sesuatu hal yang biasa dilakukan oleh para ilmuwan pada waktu membangun atau membuktikan suatu teori.
  3. Conny Semiawan (2008) mengungkapkan bahwa Pendekatan Ketrampilan Proses (PKP) adalah pendekatan pembelajaran yang mengutamakan penerapan berbagai ketrampilan memproseskan perolehan dalam pembelajaran
Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa PKP dalam pembelajaran adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan pentingya belajar melalui proses mengalami untuk memperoleh pemahaman. Dengan menggunakan keterampilan-keterampilan memproses perolehan, peserta didik akan mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai. Agar keterampilan proses yang dikembangkan dapat berjalan, peserta didik perlu dilatih keterampilan proses tersebut sebelum pendekatan keterampilan proses itu dapat dilaksanakan
B. Keterampilan Proses Sains (KPS)
1. Hakikat KPS
Menurut Indrawati (2007) Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) terbentuk dan berkembang melalui suatu proses ilmiah, yang juga harus dikembangkan pada peserta didik sebagai pengalaman bermakna yang dapat digunakan sebagai bekal perkembangan diri selanjutnya. Oleh karena itu, hakikat IPA dapat dikelompokkan menjadi produk dan proses.
  1. Produk, terdiri atas konsep, prinsip, teori, hukum.
  2. Proses, terdiri atas keterampilan-keterampilan dasar yang biasa digunakan para ilmuwan dalam bekerja secara Ilmiah (Keterampilan Proses Sains/KPS).
KPS merupakan salah satu pendekatan yang harus dijadikan acuan bagi guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Keterampilan diartikan kemampuan menggunakan pikiran, nalar dan perbuatan secara  efisien dan efektif untuk mencapai suatu hasil tertentu, termasuk kreativitas. KPS menekankan pada pembentukan keterampilan memperoleh pengetahuan, dan mengkomunikasikan perolehannya.. Pendekatan KPS berarti perlakuan yang ditetapkan dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan daya pikir dan kreasi secara efisien dan efektif guna mencapai tujuan pembelajaran

2. Jenis-Jenis Keterampilan Proses Sains
Menurut Wetzel (dalam Mahmuddin, 2010), keterampilan proses sains dikelompokkan menjadi keterampilan proses dasar dan keterampilan proses terpadu.
a. Keterampilan proses dasar, terdiri atas enam komponen tanpa urutan tertentu, yaitu :
  1. Observasi atau mengamati, menggunakan lima indera untuk mencari tahu informasi tentang objek seperti karakteristik objek, sifat, persamaan, dan fitur identifikasi lain.
  2. Klasifikasi, proses pengelompokan dan penataan objek. Dalam proses mengelompokkan tercakup beberapa kegiatan seperti mencari perbedaan, mengontraskan ciri-ciri, mencari kesamaan, membandingkan, dan mencari dasar penggolongan.
  3. Mengukur, membandingkan kuantitas yang tidak diketahui dengan jumlah yang diketahui, seperti: standar dan non-standar satuan pengukuran.
  4. Komunikasi, Membaca grafik, tabel, atau diagram dari hasil percobaan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan atau pernafasan termasuk berkomunikasi dalam pembelajaran IPA. Menggambarkan data empiris dengan grafik, tabel atau diagram juga termasuk berkomunikasi. Selain itu termasuk ke dalam berkomunikasi juga adalah menjelaskan hasil percobaan, misalnya memberikan tahap‑tahap perkembangan daun, termasuk menyusun dan menyampaikan laporan secara sistematis dan jelas.singkatnya, komunikasi menggunakan multimedia, tulisan, grafik, gambar, atau cara lain untuk berbagi temuan.
  5. Menyimpulkan, membentuk ide-ide untuk menjelaskan pengamatan.
  6. Prediksi, mengembangkan sebuah asumsi tentang hasil yang diharapkan. Keterampilan meramalkan atau prediksi mencakup: keterampilan mengajukan perkiraan tentang sesuatu yang belum terjadi berdasarkan suatu kecenderungan atau pola yang sudah ada.
Keenam keterampilan proses dasar di atas terintegrasi secara bersama-sama ketika ilmuan merancang dan melakukan penelitian, maupun dalam kehidupan sehari-hari. Semua komponen keterampilan proses dasar penting baik secara parsial maupun ketika terintegrasi secara bersama-sama. Keterampilan proses dasar merupakan fondasi bagi terbentuknya landasan berpikir logis. Oleh karena itu, sangat penting dimiliki dan dilatihkan bagi peserta didik sebelum melanjutkan ke keterampilan proses yang lebih rumit dan kompleks
Keterampilan proses sains dapat meletakkan dasar logika untuk meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik bahkan pada peserta didik di kelas awal tingkat sekolah dasar. Di kelas awal, peserta didik lebih banyak menggunakan keterampilan proses sains yang mudah seperti pengamatan dan komunikasi, namun seiring perkembangannya mereka dapat menggunakan keterampilan proses sains yang kompleks seperti inferensi dan prediksi.
b. Keterampilan Proses Terpadu
Perpaduan dua kemampuan keterampilan proses dasar atau lebih membentuk keterampilan proses terpadu. Menurut Weztel (dalam Mahmuddin, 2010), keterampilan proses terpadu meliputi :
  1. Merumuskan hipotesis, Hipotesis menyatakan hubungan antara dua variable, atau mengajuka perkiraan penyebab sesuatu terjadi. Melalui hipotesis ini diungkapkan cara melakukan pemecahan masalah, karena dalam rumusan hipotesis biasanya terkandung cara untuk mengujinya.
  2. Mengidentifikasi variabel, penamaan dan pengendalian terhadap variabel independen, dependen, dan variabel kontrol dalam penyelidikan.
  3. Membuat definisi operasional, mengembangkan istilah spesifik untuk menggambarkan apa yang terjadi dalam penyelidikan berdasarkan karakteristik diamati.
  4. Percobaan, melakukan penyelidikan dan mengumpulkan data
  5. Interpretasi data, menganalisis hasil penyelidikan.


Share this article :
Ditulis oleh: Altri Ramadoni Fisika Islam Updated at : 00:28

0 komentar:

Post a Comment

 
Support : Kontak | Privasi | Tentang
Copyright © 2019. Fisika Islam - All Rights Reserved
Temukan Kami di Facebook @ Fisika Islam