Home » » Habibie Ainun bukan Romeo & Juliet

Habibie Ainun bukan Romeo & Juliet

Written By Altri Ramadoni on 28 January 2015 | 14:24



Ketika ibu ainun meninggal, tim dokter memberikan 4 opsi kepada saya. Opsi pertama, Habibie masuk rumash sakit jiwa. Ke dua, Habibie tingal di rumah dan di rawat oleh tim dokter gabungan dari Jerman dan Indonesia. Ke tiga, Habibie mengikuti grup konseling untuk mencurahkan kegelisahannya. Yang terakhir, Habibie menuliskan semua yang dirasakannya, semua kenangannya bersama Ibu Ainun. Akhirnya saya meilih opsi yang ke empat.”

Setelah menonton film Habibie dan Ainun, kita pasti akan terkagum-kagum dengan kisah cinta mereka. Tulisan ini mungkin hanya satu dari sekian banyak tulisan yang mengungkapkan kekaguman para penonton. Tapi saya, ingin mengungkapkan penilaian pribadi saya sendiri terhadap kisah ini. Betapa sebuah cinta yang tulus sebenarnya memiliki tanggung jawab yang besar. Bahwa mencintai berarti berani mengambil tanggung jawab.

Ibu ainun menunjukan kepada kita figur seorang wanita yang berani bertanggung jawab atas penerimaan cinta. Dia menyadari bahwa pernikahan, yang demikian penting dan sakralnya, hanyalah satu bagian dalam kehidupan. Jauh ke depan, kehidupan setelah menikah itulah yang menjadi fokus utama. Dia sadar, tugas besarnya sebagai istri. Tidak bosan karena kemiskinan, tidak lelah karena masalah, selalu ada untuk menguatkan.


Habibie pun mengagumkan, tidak pernah dalam masalah apapun, dia mengatakan sesuatu yang negatif pada Ainun. Bahkan ketika Ainun meminta diizinkan pulang ke Indonesia agar dapat meringankan beban Habibie di Jerman. Habibie tidak berpura-pura tegar untuk merelakan Ainun pergi. Dengan jujur ia sadari, bahwa Ainun, jauh di dalam hatinya, pun sesungguhnya tidak rela berpisah dari Habibie. Permintaan ainun itu, sebenarnya terkandung harapan agar Habibie tetap mempertahankannya di jerman. Habibie sangat mengerti itu







Habibie selalu mengatakan hal yang positif. Karena bersamalah mereka kuat, meski dalam kesusahan hidup yang parah. Yang diyakininya adalah kebahagiaan, karena berjuang bersama, “Dengan kita menikah, kita telah memasuki sebuah terowongan yang gelap. Sepi dan panjang. Tapi setiap terowongan pasti ada ujunnya, dan di ujung itulah cahaya. Ke sanalah kamu akan saya bawa”.


Hidup mereka bukanlah hidup yang sederhana. Mereka punya cita-cita dan perjuangan besar, dalam kesederhanaan. Ainun tahu, sebagai pemilik ilmu, habibie harus bertanggung jawab dengan ilmunya, mengabdikannya untuk sebesar-besarnya manfaat bangsa.
Sungguh sebuah kisah cinta yang mengagumkan. Cinta bukanlah untuk mereka berdua. Tapi berdua membangun cinta untuk tujuan-tujuan besar dan mulia. Sehingga meski telah ditinggalkan Ainun, Habibie tetap bisa bertahan, menghadiahkan kita sebuah buku berisi kisah cinta agung penuh inspirasi. Bukan Romeo, yang bunuh diri demi mengejar Julietnya ke lain dunia








Share this article :
Ditulis oleh: Altri Ramadoni Fisika Islam Updated at : 14:24

0 komentar:

Post a Comment

 
Support : Kontak | Privasi | Tentang
Copyright © 2019. Fisika Islam - All Rights Reserved
Temukan Kami di Facebook @ Fisika Islam