Home » » Manusia, Kemanusiaan serta Landasan, Asas dan Prinsip Pendidikan

Manusia, Kemanusiaan serta Landasan, Asas dan Prinsip Pendidikan

Written By Altri Ramadoni on 15 October 2016 | 16:52



Manusia adalah makhluk ciptaan tuhan yang maha kuasa, untuk menjadi pemimpin di muka bumi ini. Untuk itu manusia perlu pendidikan agar mampu mengemban tugas yang berat tersebut. Pada artikel ini kita akan membahas mengenai Manusia, Kemanusiaan serta Landasan, Asas dan Prinsip Pendidikan, semoga saja bermanfaat bagi pembaca semuanya juga bagi mahasiswa dalam membuat tugas mata kuliah Landasan Ilmu Pendidikan.


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan gejala semesta dan berlangsung sepanjang hayat manusia, di manapun manusia berada. Di mana ada kehidupan manusia, di sana pasti ada pendidikan. Pendidikan sebagai usaha sadar bagi pengembangan manusia dan masyarakat, mendasarkan pada landasan pemikiran tertentu. Dengan kata lain, upaya memanusiakan manusia melalui pendidikan didasarkan atas pandangan hidup atau filsafat hidup, bahkan latar belakang sosiokultural tiap-tiap masyarakat, serta pemikiran-pemikiran psikologis tertentu.

Pendidikan juga dapat dikatakan sebagai aspek yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan membantu menumbuh kembangkan potensi-potensi yang dimiliki manusia.Potensi kemanusiaan merupakan benih kemungkinan untuk menjadi manusia. Ibarat biji mangga bagaimana pun wujudnya jika ditanam dengan baik, pasti akan menjadi pohon mangga dan bukannya menjadi pohon jambu.Tugas mendidikhanya mungkin dilakukan dengan benar dan tepat tujuan, jika pendidik memiliki gambaran yang jelas tentang siapa manusia itu sebenarnya. Manusia memiliki ciri khas yang membedakannya dari makhluk lain. Manusia merupakan makhluk yang luar biasa, di bawah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Dengan segala kekuatan dan keterbatasannya, manusia dapat berbuat apa saja atas lingkungannya, baik lingkungan sekitar maupun lingkungan yang lebih luas sampai mencapai perut bumi dan luar angkasa.

Manusia dapat berbuat segala sesuatu atas dirinya sendiri.Potensi manusia seperti itu secara mendasar telah dimiliki manusia sejak dari awal penciptaannya.Manusia diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna (insan kamil) diantara makhluk yang lainnya.Manusia memiliki akal dan pikiran, dengan akal dan pkiran yang dimilikinya, manusia mampu berkembang semakin tinggi dan modern, serta mengejar kebahagian.Semua itu dapat manusia peroleh melalui pendidikan.Berdasarkan latar belakang di atas, penulis akan mengkaji lebih menyeluruh mengenai hubungan antara manusia, kemanusian, dan pendidikan yang diperoleh oleh manusia tersebut.

BAB II
KAJIAN TEORI

A. Pandangan Islam tentang Manusia
a. Manusia menurut perspektif alquran
Alquran adalah suatu kitab pedoman bagi umat islam yang berlaku sepanjang masa.  Di dalam alquran juga dibaas mengenai manusia baik proses pencitaan maupun fungsi dan tujuan diciptakannya manusia di muka bumi ini. Kehadiran manusia tidak terlepas dari asal usul kehidupan di alam semesta. Manusia hakihatnya adalah makhluk ciptaan Allah SWT. 

Pada diri manusia terdapat perpaduan antara sifat ketuhanan dan sifat kemakhlukan. Dalam pandangan Islam, sebagai makhluk ciptaan Allah SWT manusia memiliki tugas tertentu dalam menjalankan kehidupannya di dunia ini. Untuk menjalankan tugasnya manusia dikaruniakan akal dan pikiran oleh Allah SWT. Akal dan pikiran tersebut yang akan menuntun manusia dalam menjalankan perannya. Dalam hidup di dunia, manusia diberi tugas kekhalifaan, yaitu tugas kepemimpinan, wakil Allah di muka bumi, serta pengelolaan dan pemeliharaan alam.

b. Manusia menurut para ulama
1. Manusia menurut Imam Al Ghazali
Konsep pemikiran Al-Ghazali tentang manusia sangat komprehensif. Ia menyatakan pengenalan hakikat diri adalah dasar untuk mengenal Tuhan. Al-Ghazali merupakan salah satu ulama yang juga pemikir besar muslim yang karya-karyanya banyak menyinggung masalah manusia. Beliau merupakan orang yang ulet dalam mencari dan menggeluti segala pengetahuan yang hendak di ketahuinya untuk mencapai keyakinan dan hakikat dari suatu kebenaran.

Menurut kajian ilmu, manusia sebagai individu terdiri dari sel-sel daging, tulang, saraf, darah dan lain-lain (materi) yang membentuk jasad. Ilmu mengakui bahwa dalam diri manusia ada jiwa, bahkan penganut teori evolusi pun mengakuinya. Namun, apakah jiwa itu substansi yang berdiri sendiri, ataukah ia hanya merupakan fungsi atau aktivitas jasad dengan organ-organnya.

Lebih lanjut, Al-Ghazali menggambarkan manusia terdiri dari Al-Nafs, Al-ruh dan Al-jism. Al-nafs adalah substansi yang berdiri sendiri, tidak bertempat. Al-ruh adalah panas alam di (al-hararat al-ghariziyyat) yang mengalir pada pembuluh-pembuluh nadi, otot-otot dan syaraf. Sedangkan al-jism adalah yang tersusun dari unsur-unsur materi. Al-jism (tubuh) adalah bagian yang paling tidak sempurna pada manusia. Ia terdiri atas unsur-unsur materi, yang pada suatu saat komposisinya bisa rusak. Karena itu, ia tidak mempunyai daya sama sekali. Ia hanya mempunyai mabda’ thabi’i (prinsip alami), yang memperlihatkan bahwa ia tunduk kepada kekuatan-kekuatan di luar dirinya. Tegasnya, al-jism tanpa al-ruh dan al-nafs adalah benda mati

Selain itu, Al-Ghazali juga menyebutkan manusia terdiri dari substansi yang mempunyai dimensi dan substansi (tidak berdimensi) yang mempuyai kemampuan merasa dan bergerak dengan kemauan. Yang pertama adalah al-jism dan yang kedua al-nafs. Di sini, ia tidak membicarakan al-ruh dalam arti sejenis uap yang halus atau panas alami, tetapi ia menggambarkan adanya dua tingkatan al-nafs dibawah al-nafs dalam arti esensi manusia, yaitu al-nafs al-nabatiyyat (jiwa vegetatif) dan al-nafs al-hayawaniyyat (jiwa sensitif). Kedua jiwa ini disebut di bawah jiwa manusia, karena dipunyai secara bersama oleh manusia dan makhluk-makhluk lainnya, tumbuh-tumbuhan untuk yang pertama dan hewan serta tumbuh-tumbuhan untuk yang kedua

Menurut Al-Ghazali, Jiwa (al-nafs al-nathiqah)sebagai esensi manusia mempunyai hubungan erat dengan badan. Hubungan tersebut diibaratkan seperti hubungan antara penunggang kuda dengan kudanya. Hubungan ini merupakan aktifitas, dalam arti bahwa yang memegang inisiatif adalah penunggang kuda bukan kudanya. Kuda merupakan alat untuk mencapai tujuan. Ini berarti bahwa badan merupakan alat bagi jiwa. Jadi, badan tidak mempunyai tujuan pada dirinya, dan tujuan itu akan ada apabila dihubungkan dengan jiwa, yaitu sebagai alat untuk mengaktualisasikan potensi-potensinya.

Disamping itu, berdasarkan proses penciptaannya, manusia merupakan rangkaian utuh antara komponen materi dan immateri. Komponen materi berasal dari tanah (Q.S. As Sajadah/32:7) dan komponen immateri ditiupkan oleh Allah (Q.S. Al Hijr/15:29). Kesatuan ini memberi makna bahwa di satu sisi manusia sama dengan dunia di luar dirinya (fana), dan disisi lain menandakan bahwa manusia itu mampu mengatasi dunia sekitarnya, termasuk dirinya sebagai jasmani (baqa).

Demikianlah pandangan Al-Ghazali tentang hakikat manusia mengenai hubungan badan dengan jiwa. Dimana, badan hanya sebatas alat sedangkan jiwa yang merupakan memegang inisiatif yang mempunyai kemampuan dan tujuan. Badan tanpa jiwa tidak mempunyai kemampuan apa-apa. Badan tidak mempunyai tujuan, tetapi jiwa yang mempunyai tujuan. Badan menjadi alat untuk mencapai tujuan tersebut. Oleh karena itu, jiwalah nanti yang akan menikmati dan merasakan  bahagia atau sengsaranya di akhirat kelak

2. Ruh dan Manusia menurut Ibnu Sina
Ibnu Sina mendefinisikan ruh sama dengan jiwa (nafs). Menurutnya, jiwa adalah kesempurnaan awal, karena dengannya spesies (jins) menjadi sempurna sehingga menjadi manusia yang nyata. Jiwa (ruh) merupakan kesempurnaan awal, dalam pengertian bahwa ia adalah prinsip pertama yang dengannya suatu spesies (jins) menjadi manusia yang bereksistensi secara nyata. Artinya, jiwa merupakan kesempurnaan awal bagi tubuh.

Sebab, tubuh sendiri merupakan prasyarat bagi definisi jiwa, lantaran ia bisa dinamakan jiwa jika aktual di dalam tubuh dengan satu perilaku dari berbagai perilaku8 dengan mediasi alat-alat tertentu yang ada di dalamnya, yaitu berbagai anggota tubuh yang melaksanakan berbagai fungsi psikologis.

Ibnu Sina membagi daya jiwa (ruh) menjadi 3 bagian yang masing-masing bagian saling mengikuti, yaitu :
  1. Jiwa (ruh) tumbuh-tumbuhan, mencakup daya-daya yang ada pada manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Jiwa ini merupakan kesempurnaan awal bagi tubuh yang bersifat alamiah dan mekanistik, baik dari aspek melahirkan, tumbuh dan makan.
  2. Jiwa (ruh) hewan, mencakup semua daya yang ada pada manusia dan hewan. Ia mendefinisikan ruh ini sebagai sebuah kesempurnaan awal bagi tubuh alamiah yang bersifat mekanistik dari satu sisi, serta menangkap berbagai parsialitas dan bergerak karena keinginan (Najati)
  3. Jiwa (ruh) rasional, mencakup daya-daya khusus pada manusia. Jiwa ini melaksanakan fungsi yang dinisbatkan pada akal. Ibnu Sina mendefinisikannya sebagai kesempurnaan awal bagi tubuh alamiah yang bersifat mekanistik, dimana pada satu sisi ia melakukan berbagai perilaku eksistensial berdasarkan ikhtiar pikiran dan kesimpulan ide, namun pada sisi lain ia mempersepsikan semua persoalan yang bersifat universal
3. Ruh dan Manusia menurut Ibnu Taimiyah
Ibn Taimiyah berpendapat bahwa nafs tidak tersusun dari substansi-substansi yang terpisah, bukan pula dari materi dan forma. Selain itu, nafs bukan bersifat fisik dan bukan pula esensi yang merupakan sifat yang bergantung pada yang lain.16 Sesungguhnya nafs berdiri sendiri dan tetap ada setelah berpisah dari badan ketika kematian datang.

Ia menyatakan bahwa kata al-ruh juga digunakan untuk pengertian jiwa (nafs). Ruh yang mengatur badan yang ditinggalkan setelah kematian adalah ruh yang dihembuskan ke dalamnya (badan) dan jiwalah yang meninggalkan badan melalui proses kematian. Ruh yang dicabut pada saat kematian dan saat tidur disebut ruh dan jiwa (nafs). Begitu pula yang diangkat ke langit disebut ruh dan nafs. Ia disebut nafs karena sifatnya yang mengatur badan, dan disebut ruh karena sifat lembutnya. Kata ruh sendiri identik dengan kelembutan, sehingga angin juga disebut ruh.

Ibn Taimiyah menyebutkan bahwa kata ruh dan nafs mengandung berbagai pengertian, yaitu :
  1. Ruh adalah udara yang keluar masuk badan.
  2. Ruh adalah asap yang keluar dari dalam hati dan mengalir di darah.
  3. Jiwa (nafs) adalah sesuatu itu sendiri, sebagaimana firman Allah SWT: ... Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang ... (QS. al-'An'am, 54).
  4. Jiwa (nafs) adalah darah yang berada di dalam tubuh hewan, sebagaimana ucapan ahli fiqih, "Hewan yang memiliki darah yang mengalir dan hewan yang tidak memiliki darah yang mengalir".
  5. Jiwa (nafs) adalah sifat-sifat jiwa yang tercela atau jiwa yang mengikuti keinginannya
Demikian pendapat beberapa ulama islam tentang manusia dan ruh, Para ulama di atas hampir semua sepakat bahwa pengertian ruh adalah sama dengan nafs. Hanya saja, ketika mereka berusaha mengupas lebih dalam lagi tentang peran, macam-macam, fungsi ruh dan tujuan penciptaan ruh bagi kehidupan manusia terkesan berbeda. Meskipun perbedaan tersebut amat tipis sekali karena kesemuaan pembahasan diatas saling berkaitan satu dengan yang lainnya yang terkadang pada proses dan fase tertentu mereka mendefinisikannya sama.
 
Terlepas dari pro dan kontra berbagai pendapat mengenai ruh dan hal-hal yang terkait dengannya, satu hal yang pasti, bahwa kebenaran tentang hakekat dari ruh itu sendiri tetap menjadi rahasia Allah semata dan Ia hanya membukakan sedikit celah pintu bagi manusia untuk mencoba membuka dan menyingkapnya secara utuh.
 
B. Pandangan Umum tentang Manusia di Indonesia
Prayitno (2009) menyatakan manusia merupakan makhluk luar biasa, di bawah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, dengan kekuatan dan keterbatasannya, manusia dapat berbuat apa saja atas lingkungannya, baik lingkungan sekitar maupun lingkungan yang lebih uas sampai menjangkau perut bumi dan ruang angkasa. Pemenuhan kebutuhan dan pengembangan diri manusia itu tampaknya memang dapat dilaksanakan dari, untuk, dan oleh manusia itu sendiri. lnilah pernyataan yang luar biasa bahwa manusia dengan segenap perkembangan budayanya adalah dari manusia, untuk manusia, dan oleh manusia. Hal ini mengimplikasikan bahwa manusia memang hebat, bisa berbuat dan membuat apa saja, untuk kehidupan kemanusiaannya yang sesuai dengan kebutuhan dan kemauannya.
 
a. Penciptaan Manusia
Teori evolusi mengatakan bahwa alam ini termasuk manusia yang ada di dalamnya berkurang secara evolusionis (berubah atau berkembang) dari makhluk yang sangat sederhana yang berkembang sedemikian rupa menjadi makhluk yang lebih kompleks. Perjalanannya yang sangat panjang itu menceritakan perkembangan tahap demi tahap sampai menjadi manusia seperti sekarang ini.
 
Pendapat Ahli agama berbeda dengan teori evolusi. ahli agama mengatakan bahwa manusia pertama tidak diciptakan di bumi, dan bukan merupakan bagian panjang dari sejarah alam. Manusia yang pertama diciptakan adalah Adam. Adam diciptakan dan hidup di dalam surga dengan aturan tidak boleh mendekati dan memakan buah khuldi, tetapi ketika Adam mendapatkan pasangan bernama Hawa, Adam tergoda oleh bujuk rayu syaitan untuk mendekati dan memakan buah larangan itu. Atas pelanggaran yang dilakukan, Adam dan Hawa diturunkan dari surga ke atas bumi. Jadilah mereka penghuni bumi pertama kemudian dilanjutkan dengan anak keturunannya.
 
b. Dimensi kepribadian manusia
Manusia dapat dipandang dari sudut yang beragam. Satu sisi dapat dipandang sebagai realitas fisik, dan sisi yang lain dapat dipandang sebagai realitas psikis
 
1. Aspek fisik manusia
Fisik/jasmani manusia yang hidup di alam ini tunduk kepada hukum alam, sehingga ia memerlukan penyesuaian diri dengan tuntutan hukum-hukum alam.
 
2.    Aspek psikis manusia
Psikis atau rohani manusia merupakan suatu yang tidak bersifat fisik/materi. Aspek fisik dikenal melalui pancaindra, di sisi lain aspek lainnya hanya dikenal dengan argumen-argumen logis yang hanya bisa dicerap oleh kemampuan rasionalitas yang cukup tinggi, atau melalui beberapa pengenalan yang tidak melalui pancaindra ataupun rasio, tetapi melalui kemampuan batin

C. Manusia menurut pandangan Ahli Barat
Beberapa pandangan ahli tentang hakikat menusia, diantaranya adalah :
  1. Plato: manusia pada hakikatnya ditandai oleh adanya kesatuan antara apa yang ada pada dirinya, yaitu pikiran, kehendak, dan nafsu.
  2. HsunTsu: manusia pada hakikatnya adalah jahat, oleh karenanya untuk mengembangkannya diperlukan latihan dan disiplin yang keras, teru­tama disiplin kepada tubuhnya.
  3. Agustinus:manusia merupakan kesatuan jiwa dan badan, yang dimotivasi oleh prinsip kebahagiaan; kesemuanya itu diwarnai oleh dosa warisan dari pendahulunya.
  4. Descartes: manusia terdiri dari unsur dualistik, jiwa dan badan. Jiwa tidak bersi­fat bendawi, abadi dan tidak dapat matt sedangkan badan yang bersifat bendawi dapat sirna, dan menjadi sasaran ilmu fisika. Di an­tara badan dan jiwa terdapat pertentangan yang berkelanjutan tak terjembatani; badan dan jiwa itu masing-masing mewujudkan diri dalam berbagai hal sendiri-sendiri. Namun demikian, hakikat manu­sia adalah jiwanya.
Pandangan yang lebih baru tentang manusia, antara lain dikemu­kakan oleh para pemikir sebagai berikut :
  1. Freud: manusia tidak memegang nasibnya sendiri. Tingkah laku manusia di­tujukan untuk memenuhi kebutuhan biologis dan insting-instingnya, dan dikendalikan oleh pengalaman-pengalaman masa lampau, dan ditentukan oleh faktor-faktor interpersonal dan intrapsikis.
  2. Adler: manusia tidak semata-mata bertujuan memuaskan dorongan dirinya, tetapi juga termotivasi untuk melaksanakan tanggung jawab sosial dan pemenuhan kebutuhan dalam mencapai sesuatu. Tingkah laku individu ditentukan oleh lingkungan, pembawaan, dan individu itu sendiri.
  3. Rogers: manusia adalah makhluk rasional, tersosialisasikan, dan dapat me­nentukan nasibnya sendiri. Dalam kondisi yang memungkinkan, manusia akan mampu mengarahkan diri sendiri, maju, dan menjadi in­dividu yang positif dan konstruktif.
  4. Skinner: manusia adalah makhluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor dari luar dirinya. Tingkah laku manusia dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungannya, melalui hukum-hukum belajar.
  5. Glasser: tindakan manusia didorong untuk memenuhi kebutuhan dasar (balk psikologikal maupun fisiologikal), yang sama untuk semua orang. Ke­butuhan fisiologikal adalah segala sesuatu untuk mempertahankan kesadaran organisme, sedangkan kebutuhan psikologikal terarah un­tuk mencintai dan dicintai, serta berguna bagi diri sendiri dan orang lain.
  6. Ellis: manusia memiliki kemampuan inheren untuk berbuat secara rasi­onal ataupun tidak rasional. Berpikir dan merasa itu sangat dekat dan bergandengan satu sama lain: pikiran seseorang dapat menjadi perasaannya, dan sebaliknya.
  7. Sartre: manusia dipandang sebagai nol yang me-nol-kan diri, pour soi yang dirinya itu bukan merupakan objek, melainkan subjek, dan secara ko­drati dirinya itu adalah bebas.
Berdasarkan dalil dan pendapat para ahli, penulis menyimpulkan bahwa manusia dipandang sebagai makhluk ciptakan Tuhan yang paling sempurna untuk diberikan amanah besar sebagai khlifah dimuka bumi ini, sehingga manusia tersebut dapat memenuhi kebutuhan dan mengembangan diri dari, untuk, dan oleh manusia itu sendiri.
 
D. Landasan, Asas dan Prinsip Pendidikan
1. Pendidikan menurut perspektif Islam
Dalam ajaran Islam, pendidikan memiliki kedudukan yang sangat pentingkarena manusia sebagai wakil Allah SWT di muka bumi memikul tugas dantanggungjawab yang cukup beratOleh karena itu, agar manusia mampumenjalankan tanggungjawabnya dengan baik diperlukan ilmu pengetahuan yang sesuai dengan kehendak Allah. Hal itu hanya dapat dipenuhi melalui proses pendidikan.
 
a. Landasan pendidikan menurut Islam
Proses pendidikan tidak dapat dipisahkandengan peranan akal, sehingga pentingnya pendidikan dalam pandangan Islamberkaitan erat dengan penggunaan akal, hati, dan pancaindera untuk berpikir danmendekatkan diri kepada Allah.. Alangkah ruginya manusia yang telah banyakmenerima karunia dari Allah, tetapi tidak mau menggunakannya untukmemikirkan ciptaan, kekuasaan, keesaan, dan keagungan sang Maha Pencipta(Allah SWT). Derajat manusia yang tinggi itu dapat jatuh ke tempat yang lebihrendah dari binatang (QS. Al-A’raf: 179).
 
Betapa pentingnya pendidikan, karena hanya dengan proses pendidikanlahmanusia dapat mempertahankan eksistensinya sebagai manusia yang mulia,melalui pemberdayaan potensi dasar dan karunia yang telah diberikan Allah.Apabila semua itu dilupakan dengan mengabaikan pendidikan, manusia akankehilangan jatidirinya.Namun perlu digarisbawahi, bahwa pendidikan yang dimaksud adalahpendidikan berdasarkan konsep Islam sesuai dengan petunjuk Allah.
 
Secaragaris besar, konsepsi pendidikan dalam Islam adalah mempertemukan pengaruhdasar dengan pengaruh ajar. Pengaruh pembawaan dan pengaruh pendidikandiharapkan akan menjadi satu kekuatan yang terpadu yang berproses ke arahpembentukan kepribadian yang sempurna. Oleh karena itu, pendidikan dalam Islam tidak hanya menekankan kepadapengajaran yang berorientasi kepada intelektualitas penalaran, melainkan lebihmenekankan kepada pendidikan yang mengarah kepada pembentukan keribadianyang utuh dan bulat. 
 
Pendidikan Islam menghendaki kesempurnaan kehidupanyang tuntas sesuai dengan firman Allah pada surat Al Baqarah ayat 208, yang artinya : ”Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islamsecara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. Bagi manusia pendidikan penting sebagai upaya menanamkan danmengaktualisasikan nilai-nilai Islam pada kehidupan nyata melalui pribadi-pribadimuslim yang beriman dan bertakwa, sesuai dengan harkat dan derajat kemanusiaan sebagai khalifah di atas bumi. Penghargaan Allah terhadap orangorang yang berilmu dan berpendidikan dilukiskan pada ayat berikut. “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yangdiberi pengetahuan derajat (yang banyak) (QS. Al Mujadalah 11) “. Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu pengetahuan jika kamu tidakmengetahui” (QS, An-Nahl 43). “Katakanlah :”Adakah sama orang-orang yangmengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui” (QS.Az.Zumar:9).
 
Pentingnya pendidikan telah dicontohkan oleh Allah pada wahyupertama, yaitu surat Al-Alaq ayat 1-5 yang banyak mengandung isyarat-isyaratpendidikan dan pengajaran dengan makna luas dan mendalam. Prilaku NabiMuhammad saw sendiri, selama hayatnya sarat dengan nilai-nilai pendidikanyang tinggi.
Dari kutipan-kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam ajaran Islampendidikan menduduki posisi yang sangat penting. Mengingat bahwa keberadaanmanusia di dunia ini mengemban tugas dan tanggung jawab yang berat, baiksebagai hamba Allah maupun sebagai khalifah di muka bumi. Kedua tugastersebut dalam pelaksanaanya merupakan satu kesatuan yang terintegrasi didalam prilaku seseorang. Dengan demikian, pendidikan memegang perananpenting dalam membentuk manusia yang bersedia mengabdi kepada Allah,dengan menyelaraskan aktivitas peribadatan dalam konteks hablum minallah,hablum minannaas, dan hablum minal ‘alam.Dengan demikian, dalam agama Islam, pendidikan bagi manusia memilikidasar yang kuat dan sangat penting, agar manusia dapat memenuhi janjinyakepada Allah, serta dapat melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya

b.    Azaz pendidikan menurut Islam
Menurut Islam Asas pendidikan  merupakan sebuah dasar atau landasan untuk menyelenggarakan sistem pendidikan secara syariat Islam. Pendidikan menurut Islam adalah pendidikan yang berbasis agama yakni agama islam. Islam memiliki kitab suci yakni Al-Qur’an. SelainAl-Qur’an yang menjadi pedoman dalam beragama adalah Sunnah Nabi Muhammad SAW. Maka pendidikan menurut  Islam seharusnya adalah pendidikan yang berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Selanjutnya dapat dikembangkan dengan ijtihad, al-maslahah al-mursalah, istihsan, qiyas, dan sebagainya

Pentingnya pendidikan tidak semata-mata mementingkan individu, melainkan erat kaitannya dengan kehidupan sosial kemasyarakatan. Oleh karena itu banyak juga ayat-ayat Al Quran yang menjadi dasar pentingnya pendidikan bagi kemaslahatan umat secara keseluruhan. Berkaitan dengan ihtiar yang dapat dilakukan oleh umat manusia untuk memperjuangkan kesejahteraan suatu kelompok manusia, Allah berfirman dalam surat ar Ra’du ayat 11 yang artinya :”Allah tidak akan merubah nasib sesuatu kaum sehingga merekamerubah dirinya sendiri”. Dengan demikian dalam mencapai cita-cita, manusia diperintahkan untuk bekerja keras. Selain itu, seseorang tidak akan memperoleh apa-apa kalau tidak ada usaha yang dikerjakannya. Setiap orang akan memperoleh hasil dari apa yang dikerjakannya, sebagaimana firman Allah Surat An-Najm ayat 39: “Dan bahwasannya seorang manusia tiada memperolehselain apa yang telah diusahakannya”. Implikasinya, setiap orang harus diberi kesempatan untuk berusaha sesuai dengan potensi yang dimilikinya, apalagi bagi para peserta didik dalam proses belajar.

Konsep pendidikan dalam Islam berkaitan erat dengan lingkungan dan kepentingan umat. Oleh karena itu, dalam proses pendidikan senantiasa dikorelasikan dengan kebutuhan lingkungan, dan lingkungan dijadikan sebagai sumber belajar. Seorang peserta didik yang diberi kesempatan untuk belajar yang berwawasan lingkungan akan menumbuhkembangkan potensi manusia sebagai pemimpin. Firman Allah (QS Al Baqarah 30) menyatakan :”Sesungguhnya Akujadikan manusia sebagai pemimpin (khalifah) di atas bumi” . Peserta didik sebagai calon pemimpin perlu dikembangkan sifat kepemimpinannya, sekaligus diperkenalkan dengan konsekuensi yang akan ia terima, yakni tanggungjawab. Karena setiap orang adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.

Kaitan dengan pentingnya pendidikan bagi umat, Allah berfirman (QS Ali Imran ayat 104, yang artinya :”Hendaklah ada di antara kamu suatu ummat yangmengajak kepada kebajikan dan memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yangmungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung”. Pada Surat At Taubah 122 Allah menyatakan bahwa :”Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itupergi semua (ke medan perang ). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan merekatentang agama”.

Berdasarkan kutipan-kutipan ayat di atas, kiranya dapat ditarik kesimpulan bahwa azaz pendidikan dalam ajaran Islam jangan terjebak dalam konsep pendidikan hasil pemikiran atau rumusan seseorang, melainkan harus mengacu kepada Firman Allah dalam Al Quran. Bahwa pendidikan dalam Islam, menitikberatkan kepada usaha sendiri dalam rangka mengaktualisasikan nilai-nilai spiritual melalui pemberdayaan potensi pancaindera dan akal, sehingga terbentuk seorang muslim yang kaafah.

c. Prinsip pendidikan menurut Islam
1. Pendidikan Islam sebagai suatu proses pengembangan diri.
Manusia adalah makhluk pedagogik, yaitu makhluk Allah yang dapat dididik dan dapat mendidik. Potensi itu ada dengan adanya pemberian Allah berupa akal-pikiran, perasaan, nurani, yang akan dijalani manusia baik sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk yang bermasyarakat. Potensi yang besar tidak akan bisa kita manfaatkan jika kita tidak berusaha untuk mengaktifkan, mengembangkan dan melatihnya. Hal itu membutuhkan sebuah proses yang akan memakan waktu, tenaga bahkan biaya, tetapi mengingat potensi yang luar biasa yang kita akan raih hal itu tidak ada artinya apa-apa.

2. Prinsip Keseimbangan hidup
Dalam pendidikan Islam prinsip keseimbangan meliputi : a) Keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat; b) Keseimbangan antara kebutuhan jasmanai dan rohani; c) Keseimbangan antara kepentingan individu dan social; d) Keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan amal. Prinsip ini telah ditegaskan dalam al-Qur'an (Al-Qashas;77); ‘ dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan kepadamau (kebahagiaan) negeri akhirat, dan jaganlah kamu melupakan kebahagiaan dari kenikmatan duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu…’

3. Prinsip persamaan
Kesempatan belajar dalam Islam sama antara laki-laki dan perempuan, oleh karena itu kewajiban untuk menuntut ilmu juga sama. Sistem pendidikan tidak mengenal perbedaan dan tidak membeda-bedakan latar belakang orang itu jika dia mau menuntut ilmu. Semua punya potensi yang sama untuk di didik dan punya kesempatan yang sama untuk memproses diri dalam pendidikan

4. Prinsip seumur hidup
Pendidikan yang dianjurkan tidak mengenal batas waktu, tidak mengenal umur. Seumur hidup manusia harunya terdidik, mulai dari lahir sampai ke liang lahat. Seluruh kehidupan kita digunakan sebagai proses pendidikan, sebagai proses untuk menjadi hamba yang baik, menjadi insan kamil.

5. Prinsip diri
Orang telah kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri. Sebenarnya sudah mati sebelum mereka hidup, sebab tidak bisa melihat dunia dengan potensi panca indranya sendiri. Manusia adalah makhluk yang sempurna dengan berbekal akal, perasaan yang bisa dikembangkan dengan inilah harkat manusia lebih tinggi di banding makhluk lainya. Atau bahkan karena akalnyapun manusia bisa unggul dari manusia satu dengan manusia lainya.

2. Pendidikan menurut ahli dari Indonesia
a. Pengertian pendidikan dan ilmu pendidikan
1) Pengertian pendidikan
Pendidikan berasal dari bahasa Yunani, paedagogy yang mengandung makna seorang anak yang pergi dan pulang sekolah diantar oleh seorang pelayan. Pendidikan dalam bahasa Romawi diistilahkan sebagai educate yang berarti mengeluarkan sesuatu yang berada di dalam. Dalam bahasa Inggris pendidikan diistilhkan to educate yang berarti memperbaiki moral dan latih intelektual (Muhajir, 2000). Pendidikan dalam arti luas adalah hidup.

Pendidikan adalah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Pendidikan adalah segala situasi hidup yang memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan hidup. Jika diamati secara seksama pengertian di atas mengandung beberapa kekhususan sebagai berikut :

2) Pengertian ilmu pendidikan
Ilmu pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang membicarakan masalah-masalah yang berhubungan dengan pendidikan. Ilmu pendidikan membicarakan hal-hal yang bersifat ilmu, teori, ataupun praktis. Ilmu pendidikan ternasuk ilmu pengetahuan empiris, rohani, normatif yang diangkat dari pengalaman pendidikan kemudian disusun secara teoritis untuk digunakan secara praktis. Sebagai ilmu yang berdiri sendiri, ilmu pendidikan termasuk ilmu yang baru berkembang. Padahal secara praktis, pendidikan sudah dimulai sejak manusia itu ada.

b. Prinsip prinsip pendidikan
Prinsip penyelenggaraan pendidikan ada 6 sebagaimana diatur dalam UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 4, ayat 1 s.d. 6
  • Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.
  • Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuanyang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna.
  • Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. 
  • Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran. 
  • Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.
  • Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan
c. Landasan-landasan pendidikan
Landasan-landasan pendidikan sangat penting untuk mengembangkan pendidikan yang bermartabat bagi pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Adapun landasan-landasan pendidikan yaitu sebagai berikut :

1) Landasan agama (relegius)
Landasan agama adalah landasan yang paling mendasar dari lain landasan-landasan pendidikan, sebab landasan agama merupakan landasan yang diciptakan oleh Allah SWT, yakni tuhan yang maha kuasa. Landasan agama itu berupa firman Allah SWT dalam kitab suci Al-qur’an dan Al-Hadis berupa risalah (turunan) yang dibawakan Rasulullah (utusan Allah) yakni nabi Muhammad SAW untuk umat manusia, berisi tentang tuntunan-tuntunan atau peedoman hidup manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat nanti, serta merupakan rahmat bagi seluruh alam.

2) Landasan filosofi
Filsafat itu ada sejak manusia itu ada (Pidarta, 2001). Manusia sebagai makhluk sosial dalam kehidupan bermasyarakat sudah memiliki gambaran dan cita-cita mereka kejar dalam hidupnya, baik secara individu maupun secara kelompok. Gambaran cita-cita itu makin lama makin berembang sesuai dengan budaya mereka. Gambaran dan cita-cita itu yang mendasari adat istiadat suatu suku atau bangsa, serta norma dan hukum yang berlaku dalam masyarakat. Demikian pula pendidikan yang berlangsung di suatu suku atau bangsa tidak terlepas dari gambaran dan cita-cita. 

3) Landasan yuridis (hukum)
Landasan hukum berarti melandasi atau mendasari atau titik tolak. Landasan hukum seorang guru boleh mengajar misalnya adalah adanya surat keputusan tentang pengangkatannya sebagai guru. hal yang melandasi atau mendasari guru menjadi guru adalah surat keputusan itu besera hak-haknya. Pendidikan menurut UUD 1945 yakni terdapat pada pasal 31 ayat 1 yang berbunyi, tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran. Ayat 2 menyatakan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional, yang diatur dengan undang-undang. Undang-undang no 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang standar pendidikan nasional.

4) Landasan psikologis
Jiwa manusia berkembang sejajar dengan pertumbuhan jasmani, jiwa balita berkembang sedikit sekali sejajar dengan tubuhnya yang  juga masih berkemampuan sederhana sekali. Makin besar anak iru makin berkembang pula jiwanya, dengan melalui tahap-tahap tertentu akhirnya anak itu mencapai kedewasaan baik dari segi kejiwaan maupun dari segi jasmani. Berdasarkan uraian tersebut dapat dipahami bahwa landasan psikologis pendidikan harus mempertimbangkan aspek psikologis peserta didik, peserta didik harus dipandang sebagai subjek pendidikan yang akan berkembang sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan mereka. Pendidikan harus akomodatif terhadap tingkat perkembangan dan pertumbuhan mereka.

5)    Landasan sejarah
Sejarah adalah keadaan masa lampau dengan segala macam kejadian atau kegiatan yang dapatt didasari oleh konsep-konsep tertentu. Sejarah mencakup segala kejadian dalam alam ini, termasuk hal-hal yang dikembangkan oleh budi daya manusia. Sejarah penuh dengan informasi-informasi yang mengandung kejadian-kejadian, model, konsep, teori, praktik, moral, cita-cita, bentuk, dan sebagainya. Informasi yang lampau ini terutama yang bersifa kebudayaan pada umumnya berisi konsep, praktik, dan hasil yang diperoleh. 

6) Landasan sosial budaya
Sosial budaya merupakan bagian hidup manusia yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Setiap kegiatan manusia hampir tidak pernah lepas dari unsur sosial budaya. Sosial mengacu kepada hubungan antarindividu, antarmasyarakat, dan individu dengan masyarakat. Unsur sosial ini merupakan aspek individu secara alami, artinya aspek itu telah ada sejak manusia mulai dilahirkan. Karena itu aspek sosial melekat pada individu yang perlu dikembangkan dalam perjalanan hidup peserta didik agar menjadi matang.

7) Landasan sosiologi
Sosiologi adalah ilmu yang mempeljari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok dan struktur sosialnya. Jadi sosiologi mempeljari bagaiamana manusia itu berhubungan satu dengan yang lain dalam kelompoknya dan bagaimana susunan unit-unit masyarakat atau sosial disuatu wilayah serta kaitannya dengan yang lain. Pada abad ke-20 sosiologi memegang peranan penting dalam dunia pendidikan.

Pendidikan yang diinginkan oleh aliran kemasyarakatan ini adalah proses pendidikan yang bisa memperthankan dan meningkatkan keselarasan hidup dalam pergaulan manusia. Perwujudan cita-cita pendidikan sangat membutuhkan bantuan sosiologi. Konsep atau teori sosiologi memberi petunjuk kepada guru-guru tentang bagaimana sehrusnya membina para siswa agar mereka bisa memiliki kebiasaan hidup yang harmonis, bersahabat, dan akrab sesama teman. Para guru dan pendidik lainnya akan menerapkan konsep sosiologi di lembaga pendidikan masing-masing. 

8) Landasan ekonomi
Bidang ekonomi memunculkn berbagai usaha baru, pabrik-pabrik baru, industri-industri baru, badan-badan perdagangan baru, dan badan-badan perdagangan jasa yang baru pula. Jumlah konglomerat bertambah banyak, walaupun golongan orang-orang miskin masih ada. Pertumbuhan ekonomi semakin tinggi dan penghasilan negara bertambah, walaupun hutang luar negeri masih besar dan penghasilan rakyat kecil masih minim.

9) Landasan ilmiah dan teknologi (iptek)
Pendidikan serta ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki kaitan yang sangat erat Tirtarahardja (2005). Iptek menjadi bagian utama dalam isi pembelajaran. dengan kata lain bahwa pendidikan berperan sangat penting dalam pewarisan dan pengembangan iptek. Iptek merupakan salah satu hasil dari usaha manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Dengan perkembangan iptek dan kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks maka pendidikan dengan segala aspeknya mau tak mau mengakomodasi perkembangan itu, baik perkembangan iptek maupun perkembangan masyarakat. Konsekuensi perkembangan pendidikan menyebabkan penataan kelembagaan, pemantapan struktur organisasi serta mekanisme kerja serta pemantapan pengelolaan dan lain sebagainya haruslah dilakukan dengan pemanfaatan iptek.

d. Asas-Asas pendidikan 
Asas atau prinsip pendidikan adalah ketentuan-ketentuan yang dijadikan pedoman atau pegangan dalam melaksanakan pendidikan agar tujuannya tercapai dengan benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan prinsip atau asas ini maka pelaksanaan pendidikan dapat berjalan lancar, efektif, dan efisien. Komisi Pembaharuan Pendidikan (1980) pernah menyusun beberapa asas pendidikan bagi Indonesia, yaitu :
  1. Asas ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, yang berarti di depan pendidik memberi contoh, di tengah memberi dorongan, di belakang memberi pengaruh agar menuju kebaikan.
  2. Asas pendidikan sepanjang hayat, yang berarti pendidikan itu dimulai dari lahir sampai mati.
  3. Asas semesta, menyeluruh, dan terpadu. Semesta artinya pendidikan itu terbuka bagi seluruh rakyat dan seluruh wilayah negara. Menyeluruh atrinya mencakup semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Terpadu artinya saling berkaitan antar pendidikan dengan pembangunan nasional. 
  4. Asas manfaat, yang berarti pendidikan harus mengingat kemanfaatannya bagi masa depan peserta didik, bagi masyarakat, bangsa, negara, dan agama.
  5. Asas usaha bersama, yang berarti bahwa pendidikan menekankan kebersamaan antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.
  6. Asas demokratis, yang berarti bahwa pendidikan harus dilaksanakan dalam suasana dan hubungan yang proporsional antara pendidik dengan peserta didik, ada keseimbangan antara hak dan kewajiban pada masing-masing pihak.
  7. Asas adil dan merata, yang berarti bahwa semua kepentingan berbagai pihak harus mendapat perhatian dan perlakuan yang seimbang, sehingga tidak ada diskriminasi.
  8. Asas perikehidupan dalam keseimbangan, yang berarti harus mempertimbangkan segala segi kehidupan manusia, misalnya jasmani rohani, dunia akhirat, individual dan sosial, intelektual, kesehatan, keindahan dan sebagainya.
  9. Asas kesadaran hukum, dalam arti bahwa pendidikan harus sadar dan taat pada peraturan yang berlaku serta menegakkan dan menjamin kepastian hukum.
  10. Asas kepercayaan pada diri sendiri, yang berarti bahwa pendidik dan peserta didik harus memiliki kepercayaan diri sehingga tidak ragu dan setengah-setengah dalam melaksanakan pendidikan.
  11. Asas efisiensi dan efektifitas, yang berarti dalam pendidikan dituntut kehematan dan hasil guna yang tinggi.
  12. Asas mobilitas, dalam arti bahwa dalam pendidikan harus ditumbuhkan keaktifan, kreativitas, inisiatif, ketrampilan, kelincahan, dan sebagainya.
  13. Asas fleksibilitas, dalam arti bahwa dalam pendidikan harus diciptakan keluwesan (fleksibel) baik dalam materi maupun caranya, sesuai dengan keadaan, waktu dan tempat.
  14. Asas Bhineka Tunggal Ika.
  15. Asas kemandirian dalam belajar, menempatkan guru dalam peran utama sebagai fasilitator dan motivator.
  16. Asas tanggung jawab, pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah.
3. Pendidikan menurut pandangan ahli dari barat
Islam dan Barat memiliki pandangan berbeda mengenai pendidikan. Paham rasionalisme empirisme, humanisme, kapitalisme, eksistensialisme, relatifisme, atheisme, dan lainnya yang berkembang di Barat dijadikan dasar pijakan bagi konsep-konsep pendidikan Barat. Ini jauh berbeda dengan Islam yang memiliki al-Qur’an, Sunnah dan Ijtihad para ulama sebagai konsep pendidikannya. Hal inilah yang membedakan ciri pendidikan yang adadi Barat dengan pendidikan Islam. Masing-masing peradaban ini memiliki karakter yang berbeda sehingga out put yang ‘dihasilkan’ pun berbeda.Tokoh pendidikan Barat, John Dewey mengatakan bahwa Pendidikansuatu bangsa dapat ditinjau dari dua segi; pertama, dari sudut pandang masyarakat (community perspective), dan kedua, dari segipandangan individu (individual perspective). Dari segi pandangan masyarakat, pendidikan berarti pewarisan kebudayaan dari generasi tua kepada generasi muda agar hidup masyarakat tetap berlanjutan. Sedangkan dari sudut pandang individu, pendidikan berarti pengembangan potensi-potensi yang terpendam dan tersembunyi.

Ilmu yang dikembangkan dalam pendidikan Barat dibentuk dari acuan pemikiran falsafah mereka yang dituangkan dalam pemikiranyang bercirikan materialisme, idealisme, sekularisme, dan rasionalisme. Pemikiran ini mempengaruhi konsep, penafsiran, dan makna ilmu itu sendiri. René Descartes misalnya, tokoh filsafat Barat asal Prancis ini menjadikan rasio sebagai kriteria satu-satunya dalam mengukur kebenaran.Selain itu para filosof lainnya seperti John Locke, Immanuel Kant, Martin Heidegger, Emillio Betti, Hans-Georg Gadammer, dan lainnya juga menekankan rasio dan panca indera sebagai sumber ilmu mereka, sehingga melahirkan berbagai macam faham dan pemikiran seperti empirisme, humanisme, kapitalisme, eksistensialisme, relatifisme, atheisme, dan lainnya, yang ikut mempengaruhi berbagai disiplin keilmuan, seperti dalam filsafat, sains, sosiologi, psikologi, politik, ekonomi, dan lainnya.

Prinsip-prinsip pendidikan menurut John Dewey :
  • Kanak-kanak mesti bebas untuk membesar dan berkembang.
  • Minat yang digalakkan dari pengalaman dapat merangsang pembelajaran yang paling baik.
  • Guru mesti menjadi seorang penyelidik dan pembimbing dalam aktiviti pembelajaran.
  • Kerjasama yang erat mestidiwujudkan antara sekolah dan rumah.
  • Sekolah progresif mesti dijadikan makmal untuk ekperimen dan perubahan pedagogi


Share this article :
Ditulis oleh: Altri Ramadoni Fisika Islam Updated at : 16:52

0 komentar:

Post a Comment

 
Support : Kontak | Privasi | Tentang
Copyright © 2019. Fisika Islam - All Rights Reserved
Temukan Kami di Facebook @ Fisika Islam