Home » » Pengertian Selected Response Assessment, Jenis, Prinsip dan Persyaratan Penyusunannya

Pengertian Selected Response Assessment, Jenis, Prinsip dan Persyaratan Penyusunannya

Written By Altri Ramadoni on 25 August 2016 | 16:49



Salah satu tugas mata kulian pengembangan evaluasi pembelajaran memiliki judul tugas yaitu Pengertian Selected Response Assesment, Jenis, Prinsip dan Persyaratan Penyusunannya. Di blog ini terdapat referensi serta makalah yang berhubugan dengan judul tugas di atas. Jika pembaca tertarik atau membutuhkan makalah silakan tanya atau minta langsung lewat kolom komentar atau lewat FB penulis. Sebelumnnya kita juga tela membahas mengenai Scientific Literacy. Semoga artikel ini bermanfaat. 


A. Pengertian Selected Response Assesment 
Berikut adalah beberapa pengertian menurut ahli :
  1. Asesmen tes tipe pilihan (obyektif) adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara obyektif, dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan dari tes bentuk esay, dan dalam penggunaannya jumlah soal yang diajukan jauh lebih banyak daripada tes essay, kadang-kadang untuk tes yang berlangsung selama 60 menit dapat diberikan 30-40 buah soal (Arikunto, 1996).
  2. Dalam Net Investigation Home Page (2002)dikemukakan bahwa soal tipe pilihan ganda adalah suatu tes pertanyaan obyektif yang terdiri atas suatu pertanyaan yang merupakan pertanyaan maupun pertanyaan yang tidak lengkap. Jawaban kunci merupakan suatu jawaban yang sudah disediakan untuk dipilih hanya ada satu jawaban yang benar dan biasanya usdah disediakn lembar jawaban khusus.
  3. Menurut Webster’s Collegiate, tes adalah serangkaian pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengkur keterampilan, pengetahuan, intelegensia, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Arikunt, 1995)
  4. Cronbach dalam Azwar (1987) mendefinisikan tes sebagai “a systematic procedure for observing a person’s behavior and describing it with the aid of a numerical scale or category system”.Dengan demikian, tes merupakan prosedur sistematis. Butir-butir tes disusun menurut cara dan aturan tertentu, prosedur administrasi dan pemberian angka (scoring) harus jelas dan spesifik, dan setiap orang yang mengambil tes harus mendapat butir-butir yang sama dan dalam kondisi yang sebanding. Tes berisi sampel perilaku. Populasi butir tes yang bisa dibuat dari suatu materi tidak terhingga jumlahnya. Keseluruhan butir itu mustahil dapat seluruhnya tercakup dalam tes. Kelayakan tes lebih tergantung kepada sejauh mana butir-butir di dalam tes mewakili secara representatif kawasan (domain) perilaku yang diukur. Butir-butir tes menghendaki subjek agar menunjukkan apa yang diketahui atau apa yang dipelajari subjek dengan cara menajwab butir-butir atau mengerjakan tugas yang dikehendaki oleh tes. Respon subjek atas tes merupakan perilaku yang ingin diketahui dari penyelenggaraan tes
Sumber lain :
1. Tes hasil belajar merupakan salah satu jenis tes yang digunakan untuk mengukur perkembangan atau kemajuan belajar peserta didik setelah mereka mengikuti proses pembelajaran.Asesmen tes tipe pilihan (obyektif) adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara obyektif, dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan dari tes bentuk essay, dan dalam penggunaannya jumlah soal yang diajukan jauh lebih banyak daripada tes essay, kadang- kadang untuk tes yang berlangsung selama 60 menit dapat diberikan 30-40 buah soal (Ari Kunto 1996)

2. Dalam Arikunto (2005: 164), tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif. 
Berikut kebaikan tes objektif :
  • Mengandung lebih banyak segi-segi yang positif, misalnya lebih representatif mewakili isi dan luas bahan.
  • Lebih mudah dan cepat cara memeriksanya.
  • Pemeriksaan dapat diserahkan orang lain.
  • Dalam pemeriksaan tidak ada unsur subjektif.
Kelemahan tes objektif :
  • Persiapan untukn menyusunnya jauh lebih sulit daripada tes essay.
  • Soal-soalnya cenderung mengungkapkan ingatan dan daya pengenalan kembali.
  • Banyak kesempatan untuk main untung-untungan.
  • Kerjasama antar siswa pada waktu mengerjakan soal tes lebih terbuka.
B. Jenis jenis Selected Response Assessment 

a. Tes Pilihan ganda 
Tes pilihan ganda merupakan tes yang menggunakan pengertian/pernyataan yang belum lengkap dan untuk melengkapinya maka kita harus memilih satu dari beberapa kemungkinan jawaban benar yang telah disiapkan.

Tes pilihan ganda merupakan jenis tes obyektif yang paling banyak digunakan oleh para guru. Tes ini dapat mengukur pengetahuan yang luas dengan tingkat domain yang bervariasi. Menurut Arikunto (2005: 164), tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif

Pilihan ganda terdiri atas suatu keterangan atau pemberitahuan tentang suatu pengertian yang belum lengkap. Untuk melengkapinya harus memilih satu dari beberapa kemungkinan jawaban yang telah disediakan Pilihan ganda terdiri atas bagian keterangan dan bagian kemungkianan jawaban atau alternatif. Kemungkinan jawaban terdiri atas satu jawaban yang benar yaitu kunci jawaban dan beberapa pengecoh

b. Test benar salah
Dalam Arikunto (2005), soal-soalnya berupa pernyataan-pernyataan (statement). Orang yang ditanya bertugas untuk menandai masing-masing pernyataann dengan melingkari huruf B jika pernyataan itu betul menurut pendapatnya dan melingkari jawaban S jika salah.

Tes benar salah adalah bentuk tes yang mengajukan beberapa pernyataan yang bernilai benar atau salah. Biasanya ada dua pilihan jawaban yaitu huruf B yang berarti pernyataan tersebut benar dan S yang berarti pernyataan tersebut salah. Tugas peserta tes adalah menentukan apakah pernyataan tersebut benar atau salah. Benar salah adalah kalimat declarative, siswa menilai pernyataan yang disajikan benar atau salah.

Tes tipe benar salah (true false test) adalah tes yang butir soalnya terdiri dari pernyataan yang disertai dengan alternatif jawaban yaitu jawaban atau pertanyaan yang benar dan yang salah. Peserta tes diminta untuk menandai masing-masing jawaban atau pertanyaan itu dengan melingkari ataupun memberi tanda silang pada huruf ‘B’ jika jawaban atau pertanyaan itu dianggap benar menurut pendapatnya dan melingkari ataupun memberi tanda silang pada huruf ‘S’ jika jawaban atau pertanyaan itu menurut pendapatnya dianggap salah

C. Kelebihan dan Kekurangan Selected Response Assessment 

Kelebihan : 
  • Mengandung Lebih Banyak segi-segi yang positif, misalnya lebih representatif mewakili isi dan luas bahan
  • Lebih mudah dan cepat cara memeriksanya
  • Pemeriksaan dapat diserahkan orang lain
  • Dalam Pemeriksaan  tidak  ada unsur subjektif
  • Tes pilihan ganda memiliki karakteristik yang baik untuk suatu alat ukur hasil belajar siswa. Karena lebih fleksibel dan efektif.
  • Tepat untuk mengukur penguasaan informasi para siswa yang hendak dievaluasi
  • Pilihan ganda dapat mengukur kemampuan intelektual atau kognitif, afektif dan Psikomotor siswa
  • Mengandung lebih banyak segi-segi yang positif, misalnya lebih representative mewakili isi dan luas bahan
  • Lebih mudah dan cepat cara memeriksanya
  • Pemeriksaan dapat diserahkan orang lain
  • Dalam pemeriksaan tidak ada unsure subjektif
Kelemahan :
  • Persiapan untuk menyusunnya jauh lebih sulit dari pada tes essay
  • Soal-soal cenderung mengungkapkan ingatan dan daya pengenalan kembali
  • Banyak kesempatan untuk main untung-untungan.
  • Kerja sama antar siswa pada waktu mengerjakan soal tes lebih terbuka
  • Tes pilhan ganda kurang dapat mengukur kecakapan siswa dalam mengorganisasi materi hasil pembelajaran
D. Prinsip prinsip Selected Response Assessment 

1. Valid
PBK harus mengukur obyek yang seharusnya diukur dengan menggunakan jenis alat ukur yang tepat (Valid). Artinya ada kesesuaian antara alat ukur dengan fungsi pengukuran dan sasaran pengukuran

2. Mendidik
PBK harus memberikan sumbangan positif pada pencapaian hasil belajar siswa

3. Berorientasi Pada Kompetensi
PBK harus menilai pencapaaian kompetensi siswa yang meliputi seperangkat pengetahuan, sikap dan keterampilan/ nilai yang tereflesikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak.

4. Adil dan Obyektif
PBK harus mempertimbangkan rasa keadilan dan objektifitas siswa

5. Terbuka
PBK hendaknya dilakukan secara terbuka bagi berbagi kalangan (stakeholders)

6. Berkesinambungan
PBK harus dilakukan secara terus menerus atau berkesinambungan dari waktu ke waktu.

7. Menyeluruh
PBK harus dilakukan secara menyeluruh yang mencakup sapek kognitif, afektif dan psikomotor serta berdasarkan strategi dan prosedur penilaian

8. Bermakna
PBK diharapkan mempunyai makna yang signifikan bagi semua pihak.

D. Persyaratan dan Penyusunan Selected Response Assessment 

1. Mengklasifikasikan ranah kognitif dan tujuan pembelajaran berdasarkan prinsip untuk mengukur apa yang telah dipelajari siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran. Cara-cara merumuskan tujuan pembelajaran yang baik merujuk pada taksonomi tujuan pendidikan menurut Bloom. Bloom mengklasifikasikan unjuk perbuatan kognitif ke dalam enam tataran perilaku yaitu pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.

2. Merumuskan tujuan khusus pembelajaran atau indicator pencapaian hasil belajar siswa. Untuk merumuskan tujuan pembelajaran yang baik hendaknya tujuan pembelajaran berpedoman pada aspek-aspek berikut :
  • Berorientasi kepada siswa
  • Berorientasi kepada perilaku yang dapat diamati sehingga dapat diukur dan tidak terlalu luas atau terlalu sempit.
  • Berorientasi pada isi/materi yang terhadapnya unjuk kerja siswa dipraktekkan.
  • Realistis bagi kebutuhan perkembangan siswa. Pemilihan tipe tes yang akan digunakan lebih banyak ditentukan oleh kemampuan dan waktu yang tersedia pada penyusun tes daripada kemampuan peserta tes atau aspek yang ingin diukur.
3. Pengelompokkan tes dan kegunaan tes
a. Pengelompokkan tesberdasarkan bentuknya terdiri dari benttuk uraian dan bentuk obyektif.
b. Kegunaan tes.

Tes dapat digunakan diantaranya untuk kepentingan berikut ini :
  1. Seleksi; hasil tes dapat digunakan untuk mengambil keputusan tentang seseorang yang akan diterima atau ditolak dalam suatu proses seleksi
  2. Penempatan; tes digunakan untuk menemtukan tempat yang cocok bagi seseorang untuk dapat berprestasi dan berproduksi secara efisien dalam suatu proses pendidikan atau pekerjaan tertentu.
  3. Diagnosis dan remedial; tes dapat digunakan juga untuk mengukur kekuatan dan kelemahan dalam suatu program pendidikan tertentu.
  4. Umpan balik; hasil tes dapat digunakan untuk memberikan umpan balik, baik bagi individu yang menempuh tes maupun bagi guru.
  5. Motivasi dan bimbingan belajar; hasil tes seharusnya dapat memotivasi siswa untuk belajar
  6. Perbaikan program; hasil tes dapat digunakan untuk bahan masukan untuk perbaikian program pendidikan selanjutnya.
4. Dasar-dasar penyusunan tes hasil belajar. Dalam menyusun THB ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan, yaitu sebagai berikut :
  • Tes hasil belajar harus mengukur apa-apa yang telah dipelajari dalam proses pembelajaran sesuai dengan tujuan atau hasil pembelajaran yang diharapkan. Dengan demikian langkah pertama adalah menentukan hasil belajar yang akan diukur, apakah termasuk ranah kognitif, afektif, atau psikomotor, kemudian baru rumuskan tujuan pembelajaran khusus yang mencerminkan perilaku yang akan diukur.
  • Tes hasil belajar disusun benar-benar mewakili materi yang telah dipelajari siswa. Untuk keperluan ini, penyusun tes dapat mengambil sampel materi apa saja yang mewakili dan patut ditanyakan kepada siswa.
  • Pertanyaan-pertanyaan dalam THB hendaknya disesuaikan dengan aspek-aspek tingkat belajar yang diharapkan. Untuk keperluan ini diperlukan pemahaman tipe dan ragam tes mana yang cocok untuk mengukur setiap aspek tingkat belajar yang diharapkan, misalnya siswa akan diukur untuk mengingat kembali fakta, maka tipe pertanyaan yang sesuai adalah jawaban singkat atau bentuk benar-salah
  • Tes hasil belajar disusun sesuai dengan tujuan penggunaan tes, misalnya untuk keperluan tes awal-tes akhir, tes penugasan, diagnostic, prestasi, formatif, atau sumatif.
  • Tes hasil belajar disesuaikan dengan pendekatan pengukuran yang dianut, apakah mengacu pada kelompok (Norm-referenced Test: penilaian acuan norma) atau mengacu pada criteria (Criterion-referenced test:penialian acuan criteria) 
  • Tes hasil belajar hendaknya dapat digunakan untuk memperbaiki prroses pembeljaran. Prinsip ini merupakan tujuan utama dari pengujian siswa dengan catatan kelima prinsip diatas dilaksanakan dengan baik dan dilanjutkan dengan adanya tindak lanjut setelah hasil tes diketahui


Share this article :
Ditulis oleh: Altri Ramadoni Fisika Islam Updated at : 16:49

0 komentar:

Post a Comment

 
Support : Kontak | Privasi | Tentang
Copyright © 2017. Fisika Islam - All Rights Reserved
Temukan Kami di Facebook @ Fisika Islam