Home » » Biomagnetisme Pada Tubuh Manusia

Biomagnetisme Pada Tubuh Manusia

Written By Altri Ramadoni on 16 January 2016 | 18:09



BIOMAGNETISME PADA TUBUH MANUSIA

I. PENDAHULUAN

Biomagnetisme merupakan fenomena medan magnetik yang dihasilkan oleh organisme hidup (www.wikipedia.org). Manusia dan makhluk hidup lainnya diketahui juga menghasilkan medan magnet, walaupun tingkatnya sangat kecil. Fenomena ini di kalangan ilmuwan disebut sebagai biomagnetisme atau biomagnetik yang berasal dari kata biologi dan magnet. Ketika sifat medan listrik digunakan pada fenomena ini biomagnetik berkembang menjadi bioelektromagnetik. Kedua disiplin ilmu ini termasuk ilmu pasti an menggunakan metode ilmiah untuk meneliti fenomena ini (Mundilarto, 2009)


Asal usul biomagnetisme diperkirakan telah muncul beberapa ratus tahun yang lalu, terkait dengan istilah "magnetisme binatang." Definisi ilmiah saat ini dimulai pada 1970-an, ketika semakin banyak peneliti memulai untuk mengukur medan magnetik yang dihasilkan oleh tubuh manusia. Gerhard Baule dan Richard McFee pada 1963 dari Departement of Electrical Engineering, Syracuse University, New York mendeteksi medan biomagnetik dari hati manusia dengan menggunakan dua kumparan yang mempunyai 2 juta putaran lilitan yang dihubungkan dengan amplifier yang sangat sensitive.

Pada tahun 1970, David Cohen dari MIT dengan menggunakan magnetometer SQUID dapat mengukur medan biomagnetik dari hati manusia, kemudian di 1972 dengan menambah kepekaan magnetometer itu ia berhasil mengukur medan magnetik disekitar kepala yang dihasilkan oleh kegiatan otak. Selanjutnya pengamatan empirik menunjukan bahwa penyakit pada jaringan tubuh mengubah medan biomagnetik normal. Sebaliknya medan biomagnetik yang diberikan kepada jaringan organ dapat menghindarkan organ tersebut dari penyakit.

Selanjutnya, medan magnetik pada manusia bisa terjadi apabila kita menahan nafas dan bernafas halus, sehingga dapat mempolarisasikan ion fe (besi) yang ada di dalam darah merah (hemoglobin). Dengan melakukan kegiatan olah nafas ini, maka manusia bisa meningkatkan dan mengatur medan magnet yang ada di dalam dirinya, yang pada akhirnya juga bisa membantu manusia untuk menjaga kesehatan dan mengobati penyakit yang ada dalam dirinya.

Berdasarkan latar bekang inilah, maka penulis tertarik untuk membahas tentang biomagnetisasi tubuh manusia ini sebagai judul tugas mata kuliah Biofisika. Semoga tulisan ini dapat memberi arti dan manfaat bagi pembaca semua.

II. PEMBAHASAN
2.1 Sifat Magnetik Tubuh Manusia
2.1.1 Penyebab Dasar
Tubuh manusia terdiri dari molekul-molekul protein yang me­nga­ndung unsur-unsur antara lain C (karbon), H (hidrogen), O (oksigen), Cl (chlor), N (Nitrogen), I (yodium),  P (Fosfor) dan mengandung unsur logam seperti Fe (besi). Sifat magnet unsur material (atom) terletak pada searah-nya spin (ro­tasi) elektron (muatan negatif) dikulit atom atau proton (muatan positif) di inti atom. Sifat material, magnet dasar terletak pada sifat magnetik inti dari un­sur-unsur pembentuk tubuh manusia, hidrogen, molekul H20 dan besi.

Sifat magnetik yang lebih statik  yaitu terdapat pada ion Fe, karena sifat spin elektron di kulit atomnya searah. Si­fat magnetik ini membe­sar jika atomnya menyusun diri sehingga elemen magnetnya searah (disebut terpolarisa­si). Ditubuh manusia Fe, terdapat pada butir darah merah (hemoglobin). Data empirik menunjukkan bahwa hemoglobin merupakan rantai protein yang panjang dimana dari beberapa pasangan posisi di kedua ujung rantai terdapat penyambung (jembatan) dalam struktur datar “heme“ di­mana ion Fe terikat (lihat Gambar 1). Melalui ion Fe ini darah merah dapat mengikat oksigen setelah melewati paru-paru. Dengan menyerap sari makanan dari alat-alat pencernaan makanan dan oksi­gen ini,  darah merah mengganti sel-sel yang rusak dengan mengok­sidasinya (mem­bakarnya dengan oksigen) dan membentuk sel baru

Jika dalam darah, molekul-molekul hemoglobin ber­posisi acak maka ke­kuatan magnetik tubuh kecil, karena sifat vektor medan magnet yang dapat saling meniadakan. Manusia dapat  mengarahkan­nya dengan melakukan latihan, yaitu  dengan memfungsikan kekuatan pikiran dan mengatur nafas secara lambat.


Zat lain yang mempunyai sifat magnetik tetapi tidak sekuat Fe di­dalam hemoglobin adalah molekul air (H20). Posisi atom hidrogen dalam molekul air tidaklah simetris dan dalam posisi ini, dua elektron dikulit luar oksigen (oksigen mempunyai 6 elektron) mempunyai spin pararel dan ini menyebabkan air bersifat sedikit magnetik (paramag­netik). Molekul air mudah diarahkan menjadi terpolarisasi magnetik. (lihat Gambar 2). Selanjutnya masih terdapat zat-zat lain yang juga magnetik mengingat molekul air terikat secara molekuler dengan senyawa organik didalam tubuh manusia.
2.1.2 Imbas Magnetik
Suatu benda magnet akan memancarkan suatu medan yang disebut medan magnetik. “Medan“ adalah suatu medium pengaruh yang dipancarkan sum­ber dimana dalam medium pengaruh ini dapat dilakukan (ditrans­misikan) di­namika (gerakan). Dengan tubuh bersifat magnetik maka tubuh akan dapat dipengaruhi atau mempengaruhi medan magnetik lainnya. Menurut hukum imbas­an magnetik, dimana Kutub magnet sejenis akan tolak-menolak, sedangkan yang ber­lawanan jenis tarik-menarik. Karena magnet selalu dalam bentuk dipol (dwikutub) maka in­teraksi kutub dua buah dipol dapat menghasilkan tarikan, tolakan atau satu memutar yang lain jika tidak segaris. Gerakan putar (rota­si) terjadi , karena satu kutub menerima tarikan dan tolakan dari dwi­kutub (lihat Gambar 3)


2.1.3 Medan Biomagnetik Tubuh Manusia
Sudah diketahui sejak lama bahwa aktivitas sel dan jaringan manu­sia menghasilkan medan biolistrik yang dapat dideteksi dipermu­kaan kulit sebagai potensial listrik spontan. Adanya arus listrik ini secara hukum fisika akan menimbulkan medan biomag­netik. Gerhard Baule dan Richard McFee pada 1963 dari Departement of Electrical Engineering, Syracuse University, New York mendeteksi medan biomag­netik dari hati manusia dengan menggunakan dua kum­paran yang mempunyai 2 juta putaran lilitan yang dihu­bungkan dengan amplifier yang sangat sensitive. Pada tahun 1970, David Cohen dari MIT dengan menggunakan magnetometer SQUID dapat mengu­kur medan biomag­netik dari hati manusia, kemudi­an di 1972 dengan menambah kepekaan mag­netometer itu ia berhasil  mengukur medan  mag­netik  disekitar kepala yang dihasilkan oleh kegiatan otak

Selanjutnya pengamatan empirik menunjukan bahwa penyakit pada ja­ringan tubuh mengubah medan biomagnetik normal. Sebaliknya medan biomagnetik yang diberikan kepada jaringan organ dapat menghindarkan organ tersebut dari penyakit. Pengamatan dari 1980 sampai 1992 yang dilakukan di Amerika Serikat dan Jepang menunjukan bahwa dari tangan seorang penyem­buh tenaga dalam (prana) terpancar medan biomagnetik dengan fre­kuensi dari 0,3 – 30 hz dengan rata-rata kegiatan disekitar 7-8 hz. Seorang ahli Q-Gong dapat memancarkan medan cukup besar yang dapat deteksi melalui  dua kumparan dengan 80.000 putaran lilitan. Pengamatan berkembang ke pengamatan medan akustik (suara) dan medan panas, selanjutnya melalui temuan-temuan ini men-dorong ilmu kedokteran mu­lai mempelajarinya. Banyak kemanfaatan dalam pe­nyembuhan  dengan medan biomagnetik ini baik yang dihasilkan oleh praktisi prana ataupun yang dihasilkan oleh peralatan magnetik.

Sedang berkembang hipotesis bahwa gelombang biomagnetik otak tidak hanya bekerja diotak saja tetapi memancar keseluruh tubuh melalui sistem syaraf tepi, ke sistem jaringan sel sekeliling syaraf.  Gelombang biomagnetik otak (otak kecil) terpancar dan tertangkap oleh “antene“ pada sistem syaraf untuk kemudian dilakukan tanggap­an dari isi perintah otak tersebut.

Dengan tambahan pengetahuan polarisasi magnetik dari hemoglobin, maka sebenarnyalah sistem peredaran darah dan syaraf manusia  me­rupakan sistem gabungan  yang saling mendukung dalam perce­patan proses berfikir realisasi kekuatan kehendak, penyembuhan diri dan pe­nyembuhan dengan tenaga prana biomagnetik. Jika darah (hemoglobin) menjadi dasar dari sifat magnetik tubuh dan di­tunjang dengan molekul air didalam tubuh, maka media ini dapat men­jalankan informasi yang sifatnya perubahan sifat  medan magnet, dari satu tempat ketempat lain, maka  pertanyaannya adalah : Apakah ini akan membentuk system syaraf magnetik manusia?. Secara fisiologis system syaraf manusia atau hewan bertulang bela­kang dapat meneruskan informasi motorik dari panca-indera ke system pusat syaraf,  Central Nervous System (CNS) kemudian dipadukan, ditafsirkan, dirumuskan maknanya dan memerintahkan syaraf motorik untuk mela­kukan tanggapan

Sitem pembawa informasi disebut “neuron motorik “ yang secara fisik berupa pipa membran (meninge) yang disebut “axon“ (lihat Gambar 4). Di dalam axon terdapat konsentrasi ion negatif dan diluar terdapat ion positif, disini ion Na+ dan K+ mengambil peranan dalam membentuk po­tensial dasar elektrokimia dan merespon informasi yang masuk se­bagai perubahan potensial (potensial aksi/picuan). Adanya potensial aksi akan membuka saluran Na+ untuk menyalurkan Na+ ke dalam axon, secara bersamaan terjadi penyaluran ion K+ kelu­ar mengimbangi aliran Na+. Proses terbuka Na+ kedalam dan penam­bahan K+ keluar akan menjalarkan gerakan ini ke segmen   axon didekatnya kearah kemana informasi  harus berjalan. Proses ini seperti penjalaran gelombang elastik dimana  terjadi proses penerusan dorongan atau tarikan. Demikianlah penjalaran informasi me­rupakan penjalaran pembukaan potensial elektrokimia dalam pipa mem­bran yang merupakan penjalaran (gelombang) kepadatan ion. Dalam pengertian teori gelombang ini dapat diikatakan sebagai gelombang ionik.

Merujuk proses tersebut maka untaian magnet elementer yang berupa molekul hemoglobin dapat berfungsi seperti ion   dalam pipa membran tadi. Jika pada satu posisi molekul hemoglobin merasakan informasi magnetik (ada tambahan atau pengurangan medan) maka akan secara berantai menjalar kepusat syaraf (CNS) magnetik dan setelah itu akan mengirim  tanggapannya ke organ lain untuk melaku­kan gerakan tang­gapan (motorik). CNS magnetik  juga terletak di otak, karena kedalam otak juga mengalir darah. Didalam otak infor­masi jenis manapun dapat dipadukan dan ditafsirkan.
Di sistem syaraf biasa (sistem yang  membran ionik) bisa juga menjalarkan informasi magnetik, karena perubahan medan magnetik akan memberikan gangguan pada gerakan ion. Diduga pengaliran ke­dalam Na+ dan pengaliran keluar K+ sepertinya menghasilkan medan magnetik melingkar didalam kulit (membran) pipa dan ini bersebab aki­bat  dengan penjalaran kepadatan ion didalam pipa. Medan magnet akibat pengerakan polarisasi magnetik akan menghasilkan arus yang mendorong konduksi ion, terjadilah percepatan arus informasi. Dalam sistem penyaluran informasi magnetik, hemoglobin  dalam pem­buluh darah melakukan proses dukungan (back-up) pada pem­buluh syaraf.

2.1.4 Tenaga Magnetik
Apakah medan magnet dari  tubuh manusia juga dapat mem­bawa tenaga atau energi yang dihasilkan tubuh?. Tenaga didalam tubuh manusia berasal dari glukosa dan le­mak. Otak mendapat energi dari glukosa dan oksigen yang dibawa dari darah. Jaringan lain dari glukosa dan lemak . Didalam sel tubuh terdapat or­gan yang berfungsi mengubah glukosa dan lemak menjadi energi yang dise­but mitokondria (mitocondria). Didalam mitokondria terjadi proses di­mana glukosa dan lemak berubah menjadi senyawa meng­andung energi yang siap dialirkan kedalam otot-otot, syaraf dan pem­buluh darah. Se­nyawa ini disebut Adenosine Triposphate (ATP). ATP terbentuk kemu­dian langsung berubah menghasilkan energi se­cara bertahap melalui Adenosine Biphosphate dan Adenosine Mono­phas­phate menghasilkan  asam fosfat, air dan energi, dimana asam fos­fat mendaur membentuk ATP kembali dengan glukosa dan lemak yang akan diproses.

Energi yang dihasilkan masuk ke hemoglobin dan membuat medan magnetiknya berintensitas tinggi mengandung energi untuk di­pancarkan. Menurut ilmu fisika, energi yang dipancarkan melalui medan magnet sebanding dengan kuadrat kuat medannya. Adanya tenaga magnetik akan memperkuat proses kerja medan mag­netik yang terpancar ketika berinteraksi dengan  medan magnet lain.
Kalau dalam proses tersebut seseorang (yang mempunyai)  medan lain sangat peka di syaraf kesetimbangannya, maka ia mempunyai “kelem­baman“ kecil, sehingga akan merasakan dorongan atau tarikan yang kuat  menjadi terpelanting  misalnya.

2.2 Fenomena Tubuh Sebagai Instrumen
2.2.1 Kekuatan Kehendak (Pikiran) dan Syaraf Motorik
Kekuatan kehendak adalah kekuatan dari keinginan seseorang untuk terjadinya sesuatu. Jika yang diinginkan itu terjadi didal­am tubuhnya maka pada umumnya akan terlaksana (terjadi), karena perintah itu dilaksanakan  melalui syaraf motorik dan syaraf ini akan menggerakk­an organ tubuh sesuai yang diperintahkan. Perintah ini adalah sangat mudah jika organ tersebut yang memang melakukan gerak motorik seperti tangan, kaki, gerak mata, hidung, pinggang, panggul dan dsb. Tetapi juga dapat berfungsi (dengan latihan) untuk misalnya men­galirkan panas  tubuh ke bagian yang terasa dingin, mengatasi rasa gatal tanpa menggaruk, meredakan peristaltik usus dan sebagainya.

Terdapat fenomena lain, bahwa pelaksanaan perintah kehendak da­pat dilaksanakan diluar tubuh oleh syaraf motorik kita, ini  merupakan perluasan (ekstensi) syaraf motorik. Ekstensi ini hanya dapat terjadi jika dari tubuh dimana syaraf motorik ada memancar medan yang da­pat menstransmisikan gerakan dinamik motorik tersebut. Berikut dapat dicoba fenomena bandul motorik dibawah ini  (lihat  Gambar 5)
  1. Buat bandul dari seutas, tali rafia tipis (yang tidak memilin/melintir) sekitar 30 cm dengan benda pemberat  apa saja sebagai bandul­nya.
  2. Pegang ditangan kanan atau kiri anda dengan siku tidak bertum­pu. Kemudian sedikit menahan napas agar tangan tidak naik tu­run, Lakukan konsentrasi (perhatian sungguh-sungguh) dan pe­r­intahkan dalam hati atau diucapkan agar bandul bergerak maju mundur. Tunggu sebentar, akan terjadi gerak maju mundur tanpa tangan bergerak.
  3. Setelah itu coba perintahkan gerak kiri-kanan, putar kiri, putar kanan, serong kanan dan sebagainya. Seluruh gerakan akan ter­jadi selama didaerah derajat kebebasan bandul itu dengan tali rafia bertegangan. Karena tegangan tali adalah medan penyam­bung perluasan perintah motorik tersebut.
Terbukti  bandul dapat menampilkan gerakan respon tubuh. Kalau demikian kita dapat praktekan teori berikut :
Setiap sistem mekanik pasti punya gerak karakteristik atau fungsi respon. Maka untuk sistem mekanik tubuh manusia, melalui bandul ini dapat dicari gerak khas yang  dikaitkan dengan kekuatan kehendak dan syaraf motoriknya.
Untuk maksud itu bandul dipegang tergantung dengan berkonsentrasi dan pikiran mengatakan “Ya” dan dilihat respon gerakannya . Bandul akan bergerak dan untuk seseorang akan bersifat khas tidak berubah. Selanjutnya dilihat respon bandul untuk pernyataan “Tidak”, dan res­pon ini juga khas.
Dengan dua gerak “Ya” dan “Tidak” ini sebetulnya telah mengubah diri kita melalui gerakan motorik tubuh menjadi instrumen yang res­ponnya dapat dilihat oleh orang lain. Instrumen ini dapat mengukur suatu keadaan atau peristiwa yang sudah atau sedang terjadi yang informasinya masuk ke sistem syaraf pemegang bandul melalui panca indera atau melalui medan magnet yang dapat diterima syaraf. Peng­ukur sebaiknya  tidak mengharapkan jawab tertentu, karena harapan jawab  akan menjadi “noise” (gangguan) pada  sistem ini.

Selanjutnya alat (scanner) ini akan ditera dengan suatu pernyataan nyata yang dibuktikan oleh gerakan­nya. Misalnya seorang (X) diminta memegang kunci di tangan kanan, pemegang bandul menanyakan “Apakah kunci di tangan kanan X ?Bandul akan bergerak “Ya”, kemu­dian pertanyaan dibalik “Apakah kunci ditangan kiri X ?. Bandul akan bergerak “Tidak”. Jika tidak terjadi seperti itu maka gerakan “Ya” dan “Tidak” pemegang bandul belum mantap/stabil perlu dicari lagi. 

Permainan selanjutnya dapat diteruskan dengan para pemegang bandul beristirahat sebentar agar tidak  lelah, kemudian orang yang pegang kunci tadi menyembunyikan kedua tangannya dibelakang tubuh. Kunci digenggam disalah satu tangannya, tetapi tidak telihat oleh para pemegang bandul. Para pemegang bandul disilahkan me­nebak dengan mengajukan pertanyaan “Apakah kunci di tangan kanan X? Gerakan bandul para peserta akan menjawab pertanyaan itu.Jika langkah-langkah sebelumnya telah mantap dan baik, posisi kunci akan dapat diindera  secara benar.

Pada kejadian terakhir ini kecerdasan  magnetik mulai berfungsi disi­ni. Si X yang memegang kunci sebetulnya memancarkan berita ten­tang posisi kunci melalui pikirannya sebagai informasi yang terkan­dung di medan magnet yang dipancarkannya. Selain itu posisi kunci sendiri juga memberikan medan magnet yang berbeda. Pancaran ini sebenarnyalah diterima oleh para pemegang bandul dan kebenaran­nya dikonfirmasikan atau diukur oleh gerakan bandulnya. Kecerdasan magnetik telah berfungsi pada para pemegang bandul

2.2.2 Menerima dan Memancar
Untuk selanjutnya akan digunakan istilah medan magnetik  yang dapat dirasakan orang atau medan magnetik yang dipancarkan manusia sebagai medan biomagnetik. Beberapa bagian tubuh tertentu peka pada medan biomagnetik. Yang paling mungkin adalah telapak tangan yang punya fungsi peraba mekanik. Hal ini disebabkan medan biomagnetik luar akan mempeng­aruhi medan magnet  pembuluh darah pada telapak tangan dan menghasilkan gerakan mekanik dorongan, tarikan atau getaran dan ini dapat dirasakan oleh telapak tangan (dengan sendirinya perlu me­lalui latihan)

Bagian tubuh lainnya yang dapat dilatih kepekaannya terhadap  medan biomagnetik adalah indera penglihatan. Perlu diketahui bahwa medan biomagnetik dapat memantulkan atau memancarkan cahaya, sehingga dapat dilihat kelainannya melalui penglihatan. Tentang ke­pekaan ini akan dibicarakan lagi ketika membahas kecerdasan mag­netik.

Medan magnetik tubuh yang berasal dari hemo­globin adalah menjadi medan dasar (rujukan) dari variasi perubahan  medan. Medan ini lebih bersifat dekat de­ngan statik karena frekuensi amat rendah atau gelom­bang panjang. Pada posisi medan dasar ini  perubahan medan magne­tik dapat terja­di  karena perubahan harmonik (getaran) atau perubahan tambahan yang sifatnya kejutan. Secara fisika perubahan medan magnet terha­dap waktu akan menimbulkan gelombang  elektromagnetik yang mempu­nyai komponen magnetik dan  listrik.

Dengan adanya sifat elektromagnetik ini maka informasi magnetik da­pat terpancar jauh, apalagi jika penerima dapat melakukan “tuning” atau resonansi secara baik  sehingga akan terbentuk gelombang koheren yang memudahkan proses transmisi informasi. Frekuensi gelombang bioelektromagnetik ini diduga dibawah 10  hZ .

2.2.3. Benda Magnetik
Yang termasuk benda magnetik adalah sesuatu yang bersifat magnetik dan memancarkan medan magnet, tetapi juga yang menolak medan magnet (diamagnetik) dan gerakan-gerakan yang menghasilkan per­ubahan medan magnet.

Berikut adalah, contoh benda yang termasuk “benda magnetik” :
  1. Benda mengandung logam atau Fe dan Mg logam secara umumnya khususnya yang mengandung Fe dan Mg atau unsur  transisi di susunan berkala, batu-batuan berwarna gelap (ba­salt, andesit, dasit, gabro, cadangan mineral)
  2. Benda yang menolak medan magnet luar (magnet bumi) seperti : kayu, plastik, kaca, dsb.
  3. Benda yang dapat menyimpan energi seperti kristal, batu mulia , permata, kumparan, kubah, benda-benda runcing.
  4. Benda yang mengandung air seperti, sumur, sungai sumber air bawah tanah , barang lembab, pohon-pohonan.
  5. Makhluk hidup : manusia dan binatang.
  6. Dengan gerakan tertentu orang dapat menghasil-kan medan magnet atau perubahan magnet.
  7. Sumber medan magnet seperti :  daerah konvergensi medan  (karena mangandung benda magnet), mahkluk halus (gum­palan medan magnet hidup), gumpalan pada pembuluh da­rah, pembuluh syaraf, membran-membran penyaring dsb
2.3 Kecerdasan Magnetik
2.3.1 Penginderaan Biomagnetik
Dengan memahami makna kemagnetikan tubuh manusia, maka yang amat penting adalah bagaimana penginderaan biomagne­tik dapat terjadi. Dari uraian sebelumnya tampak yang sangat utama adalah kekuatan kehendak untuk agar dapat mengindera isyarat (sinyal) biomagnetik. Konsentrasi pada bagian tubuh yang bersifat magnetik, diarahkan ke obyek yang diduga memancarkan isyarat tersebut. Me­mejamkan mata adalah upaya agar energi tidak terbuang melalui indera penglihatan dan ini dapat meningkatkan kon­sentrasi pemikiran, demikian juga dengan indera pendengaran dan penciuman.

Telah disinggung sebelumnya bahwa telapak tangan secara naluri dapat diaktifkan sebagai alat pengindera karena berbagai fenomena magnetik dapat dikonversikan menjadi fenomena mekanik yang dapat dirasakan oleh kulit telapak tangan. Selanjutnya yang dapat difungsikan dengan baik adalah indera penglihatan, mengingat  pembuluh darah dan syaraf sangat rapat di­mata untuk merespon cahaya yang tidak lain juga gelombang elek­tromagnetik. Konsentrasi dan keinginan mengindera medan magnet dengan latihan akan melebarkan selang frekuensi spektra elektro­magnetik yang dapat diindera oleh mata. Bantuan kepekaan magnetik dipembuluh darah membentuk proses peningkatan kepekaan ini.

Demikian juga yang terjadi pada indera pendengaran, getaran-ge­tar­an frekuensi rendah yang biasanya tak terdengar dapat didengar. Berikut beberapa “citra” hasil penginderaan karena adanya pening­katan kepekaan (hasil pengalaman beberapa orang)
  • Seseorang dapat melihat pancaran bioelektro­magnetik  dari tubuh seseorang (ini disebut “aura“ ) dalam warna dan kombinasi warna tertentu.
  • Seseorang yang dapat melakukan terapi magnetik dapat melihat seseorang dalam citra seperti foto rontgen hitam putih. Yang normal berwarna putih dan yang sakit berwarna gelap (hitam).
  • Seseorang dapat merasakan adanya benda logam atau bukan logam dengan merasakan adanya getaran atau, rasa seperti tertusuk jarum   pada telapak tangannya.
  • Seseorang dapat mendengar seseorang bersuara secara jelas padahal orang tersebut berada ditempat jauh.
  • Seseorang dapat melihat bayang-bayang atau citra “makhluk ha­lus”.
  • Seseorang ditutup matanya tetapi dia dapat mengenal jalan dan ti­dak menabrak barang-barang yang ada didepannya (seakan akan seperti tidak ditutup matanya).
2.3.2 Membangun Kecerdasan Magnetik
Dari uraian sebelumnya maka latihan dasar kecerdasan magnetik terdiri dari latihan-latihan sebagai berikut: latihan agar dapat mempolarisasikan (magnetik) darah de­ngan :
  • Melancarkan gerakan organ tubuh dengan olah raga  menahan napas (anaerob).
  • Bernapas pelan dan halus secara tidak tergesa - gesa.
Olahraga anaerob adalah untuk membakar lemak dan sel-sel yang rusak dengan oksigen yang diambil oleh darah, dan karena napas di­tahan maka molekul hemoglobin akan mempolarisasikan diri searah. Olahraga ini akan menghasilkan gerakan ekstra pada organ internal untuk berfungsi lebih aktif memanfaatkan oksigen. Demikian juga gerakan ekstra terjadi pada kelenjar-kelenjar hormonal. Keteraturan olahraga ini akan menyehatkan organ internal.

Olah raga anaerob ini akan melengkapi olah raga aerob, Olah raga aerob (aerobik) adalah melatih otot-otot agar paru-paru dapat menghi­rup oksigen sebanyak-banyaknya, sedangkan olahraga anaerob adalah memanfaatkan oksigen yang terserap seefektif mungkin. Bersama latihan ini rasa (emosi) diarahkan secara berkonsen­trasi mengikuti arah gerakan.Dalam proses ini orang dilatih sabar dan perhatian pada gerakan akan meningkatkan efektivitas proses oksi­dasi dan metabolis­me organ - organ internal. Kembali lagi “flushing” (pem­bilasan) melekul-melekul darah dan syaraf, THT (telinga, hidung, tenggorokan) dsb. Polarisasi hemoglobin terjadi lebih baik dan dapat “stabil” serta terjadi proses pembia­saan dirinya.

Untuk penyempurnaan latihan dasar ini, perlu dilakukan bantuan ahli fisiologi  ataupun syaraf (dalam hal ini pe­latih) melakukan kejutan pada otot dan simpul-simpul syaraf tertentu agar proses “pengaliran” darah dan isyarat pada syaraf menjadi lancar.

Setelah melalui latihan dasar dihasilkan dasar kekuatan dan kepekaan yang stabil, mulailah dibangun kecerdasan magnetik yaitu me­manfaatkan kemampuan menerima isyarat biomagnetik untuk mem­bangunnya menjadi suatu kecerdasan yang bermanfaat. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat dirujuk
a. Memfungsikan kekuatan kehendak misalnya untuk :
  1. Mengalirkan hawa hangat yang terbentuk ketika menahan nafas ke berbagai bagian pada tubuh.
  2. Mengencangkan otot pada organ tubuh.
  3. Mengeluarkan tenaga dan “meletakkan­nya“ disuatu titik untuk diindera oleh orang lain.
  4. Memusatkan tenaga fisik di tangan atau jari, kemudian digunakan untuk mema­tahkan atau membengkokan benda padat (tenaga dalam fisik).
b. Memfungsikan kekuatan kehendak dan logika untuk menafsir­kan informasi magnetik yang masuk, dengan menghasilkan “citra magnetik“ dari informasi tersebut sehingga mudah penaf­sirannya secara logik.
c. Melatih menggabungkan beberapa hal yang berlogika yang saling terkait dengan mena­han nafas, agar gabungan pengerti­annya mudah dan cepat dipahami serta cepat pula logika ga­bungan ini dapat digunakan untuk analisis.
d. Melatih kepekaan dan mengindera benda dengan mata tertu­tup untuk mencirikan : warna, bentuk keseluruhan, tulisan dsb. Ini adalah mengembang-kan kemampuan “mata magnetik “ 
e. Melatih suatu proses otomatis penafsiran, di­mana tanpa kondisi sadar kita mengolah in­formasi, dan secara tak sadar kita mendapat pengetahuan atau kesimpulannya, yang jika kita ungkapkan ternyata betul. Ini memang seperti proses tidak sengaja (kebetulan), tetapi beberapa pengalaman “kebetulan“ tersebut sering terjadi Inilah latihan  mengembangkan “firasat“ atau  “intuisi“
f. Melatih sinkronisasi dengan kawan (tuning) untuk latihan :
  • merasakan tenaga kawan
  • memahami informasi yang dikirim (telepati)
  • mencoba melakukan perlakuan terapi pada sakit yang sifat­nya metabolisme; pusing, mual, pegal dsb
g. Dengan konsentrasi melatih organ-organ in­ternal pencernaan kita untuk menolak (tidak mencerna) makanan-makanan yang tidak baik bagi kesehatan.
h. Melatih mengeluarkan tenaga (energi) atau medan untuk perlin­dungan diri, melindungi orang lain atau melindungi ka­wasan.
i. Melatih mengeluarkan tenaga dalam untuk mempolarisasikan molekul air ( yang para­magnetik ). Air terpolarisasi ini biasanya un­tuk terapi kesehatan.
j. Bagi olahragawan adalah berlatih untuk me­musatkan tenaga pada otot dan organ , serta memancarkan medan untuk perlin­dungan diri agar tidak terjadi kecelakaan.
k. Berlatih mentransfer “ keinginan “ ke orang lain, ini adalah jenis hipnotisme.

2.3.3  Aspek Spritual Kecerdasan Magnetik
Kecerdasan magnetik dalam pengertian diatas, dapat diperoleh melalui cara-cara spiritual, karena Tuhan-lah yang mengabul­kan dan mem­buatnya terbentuk. Ketika seseorang berdoa dengan konsentrasi dan khusu’, maka ia melakukan  :
  • penahanan nafas atau pernafasan pelan dan halus
  • menutup pancaindera (untuk tidak mengindera sesuatu) agar konsentrasi­nya bagus.
Disinilah ia memfungsikan dan melatih indera magnetik­nya. Kecerdasan  magnetik dalam spiritual akan meningkatkan ke­cerdasan dalam pemahaman   masalah agama dan kepercayaan. In­formasi kadang-kadang diyakini datang dari yang Maha Kuasa, karena muncul secara intuitif,   cepat (otomatis) dan pada umunya sangat jelas dipahami : dikabulkan, ditolak atau diberikan alternatif lain. Iman atau keyakinan kepada Yang Maha Kuasa membuat  kecer­dasan magnetik  manusia dapat memahami aspek ghaib (yang tidak dapat kelihatan mata), sebagai sesuatu yang ada.

Walaupun demikian dapat terjadi sebaliknya jika kecerdasan magnetik ini digunakan untuk memahami atau meyakini sisi buruk dari ke­hidupan, maka kesana pula arahnya.  Disinilah manusia diberi kebebasan untuk memilih “jalan“ baik atau “jalan“ buruk bagi dirinya. 

2.3.4.  Sistem Syaraf dalam Kecerdasan Magnetik
Dari pengertian dan hal-hal praktikal yang telah diuraikan maka mag­netisasi dari hemoglobin akan menambah jangkauan panca­indra atau indera lain dalam menerima dan mengirim informasi ke otak baik ke­bagian sadar atau bawah sadar. Informasi magnetik dapat masuk tanpa disadari dan masuk kebawah sadar (lihat Gambar 7). 

Didalam otak informasi tersebut diolah untuk menghasilkan “ke­simpulan dan solusi” yang harus ditindak lanjuti oleh syaraf motorik ke anggota tubuh. Sistem gelombang biomagnetik otak dan penguatan medan hemoglobin menghasilkan proses yang lebih cepat. Selain itu waktu syaraf motorik menjalankan aksi akan dibarengi kekuatan ke­hendak yang juga perintah otak memancar rmelalui medan biomag­netik kelu­ar tubuh.
Sesuai dengan fungsi medan (seperti te­gangan tali pada ban­dul) maka medan biomagnetik ini akan menjalankan “perintah ” otak. Jika seseo­rang “tuning” (menerima secara baik)  gelombang pancaran ini,  maka syarafnya akan menerima “perintah” dan menjalankannya baik perintah terse­but yang sifatnya  gerakan ataupun proses-proses mikro yang terjadi di syaraf-syaraf organ, termasuk reaksi-reaksi elek­trokimia yang harus terjadi dalam tubuh.

Ketaatan pada perintah akan memberikan nilai keberhasilan dari kekuatan kehendak melalui media medan biomagnetik ini. Demikianlah kecer­dasan biomagnetik berfungsi dalam mempengaruhi orang lain. Dalam contoh ini dapat dijalankan proses terapi biomag­netik, hipnotisme (membuat orang menurut perintah) dan telepati.

2.4 Terapi Biomagnetik
Terapi Biomagnet adalah jenis terapi alami untuk penyembuhan dan menjaga kesehatan menggunakan medan magnetik yang sudah digunakan sejak ribuan tahun yang lalu oleh orang-orang Cina, Mesir, Kasdim, Arab, Yunani, Roma, dan India. Cina telah menggunakan terapi magnet sekitar 2000 tahun sebelum masehi dengan refleksiologi dan akupunktur. Ratu Cleopatra dari Mesir yang kecantikannya sangat kesohor menggunakan biomagnetik pada ikat kepala di dahinya untuk menjaga kulitnya tetap awet muda. Pada tahun 1976 di Boston, Amerika Serikat diadakan Konferensi Internasional Biomagnetic Pertama yang menandai lahirnya terapi biomagnet modern. Setelah itu masyarakat dunia mengetahui bahwa di era awal astronot Amerika ke luar angkasa, mereka sudah dilengkapi cukup pasokan oksigen, air, dan nutrisi. Namun ternyata ketika kembali ke bumi para astronot harus dikarantina dulu karena sulit berjalan, mengalami pengeroposan tulang, dan metabolisme tubuh terganggu. Dari hasil riset akhirnya diketahui penyebabnya adalah akibat tidak terkena medan magnet bumi. Jadi untuk hidup sehat tubuh manusia memerlukan cukup pasokan nutrisi, oksigen, air, olah raga, dan medan magnet.

Saat ini penggunaan terapi biomagnet berkembang luas di Eropa, Amerika, dan seluruh dunia. Bahkan alat terapi yang praktis berupa gelang biomagnetic dan kalung biomagnetic semakin banyak digunakan selebriti dunia seperti Cherie Blair, Bill Clinton, Anthony Hopkins, Prince William, Queen Elizabeth II, Shirley Mclaine, Venus Williams, Michael Jordan, Andre Agassi, Jack Nicklaus, Arnold Palmer, dan masih banyak lagi

Terapi biomagnet modern melalui riset dan teknologi canggih dikemas berupa gelang dan kalung titanium bermagnet neodymium. Gelang biomagnet dan kalung biomagnet merk Biomagworld buatan Amerika Serikat sangat praktis digunakan sehari-hari, tidak menggunakan batere dan listrik, tidak habis dipakai, dan menambah gaya penampilan (fashionable). Lebih lanjut, berikut adalah manfaat dari terapi biomagnetik :
  1. Memperlancar peredaran darah. Sel darah mengandung zat besi dan medan magnet masuk melalui kulit ke dalam jaringan tubuh dan aliran darah. Zat besi dalam sel darah seketika terpengaruh oleh medan magnet sehingga membuat aktifitas peredaran darah dalam pembuluh darah meningkat dan membuat aliran darah lebih baik. Ketika magnet ditempatkan di pembuluh arteri utama seperti pembuluh arteri jantung (titik nadi di pergelangan tangan) atau pembuluh nadi karoid (titik nadi di leher) akan terjadi penyerapan medan magnet yang lebih besar yang memperlancar aliran darah ke seluruh tubuh. Jika aliran darah lebih lancar, maka terjadi peningkatan distribusi oksigen, nutrisi, dan hormon-hormon yang diperlukan untuk pemeliharaan jaringan dan organ-organ tubuh; termasuk zat-zat alkalin untuk penyembuhan dan endorfin, yaitu hormon alami untuk menghilangkan rasa sakit.
  2. Meningkatkan energi seketika. Dalam tubuh yang sehat terdapat 80% ion negatif dan 20% ion positif. Alat terapi biomagnet seketika menarik ion negatif dari udara yang diperlukan sebagai sumber energi tubuh dan memblokir ion positif dari polusi, gelombang elektromagnet ponsel dan alat-alat listrik yang melemahkan tubuh.
  3. Menyeimbangkan metabolisme tubuh. Banyak penyakit disebabkan karena metabolisme tubuh tidak seimbang. Gelang dan kalung terapi biomagnet langsung bekerja mengembalikan keseimbangan metabolisme tubuh dan otomatis membantu penyembuhan banyak penyakit.
  4. Meningkatkan elastisitas otot dan jaringan tubuh 
Sudah dibuktikan oleh para pakar bahwa jika tubuh kekurangan magnet, maka akan menimbulkan berbagai penyakit. Jika sel kekurangan magnet maka akan mempercepat penuaan sel, meningkatkan kekentalan dalam darah, memperburuk fungsi jantung untuk memblokir endapan-endapan dalam sistim sirkulasi, dll. 
Untuk mencegah gejala-gejala kekurangan magnet, kita seharusnya menambah medan magnet di tubuh kita . Darah mengandung zat besi dan mempunyai kutub magnet dan medan magnet masuk melalui kulit ke dalam jaringan tubuh dan aliran darah. Zat besi di dalam darah dipengaruhi oleh medan magnet, yang menyebabkan peredaran dalam pembuluh darah serta aktifitasnya meningkat, membuat aliran darah lebih baik. Setiap bagian dari tubuh bergantung kepada darah untuk menyediakan oksigen dan nutrisi yang diperlukan agar dapat bertahan hidup. 

Ketika magnet ditempatkan langsung pada pembuluh arteri utama seperti pembuluh arteri jantung (titik nadi di pergelangan tangan) atau pada pembuluh arteri karotid (titik nadi di leher) akan ada penyerapan yang lebih besar pada aliran darah sehingga medan magnet dapat dialirkan keseluruh tubuh.
Saat aliran darah dalam tubuh meningkat, maka oksigen, nutrisi dan hormon-hormon akan didistribusikan kedalam jaringan dan organ-organ tubuh secara lebih efektif dan cepat. Organ-organ anda mempunyai persediaan oksigen dan nutrisi yang segar dan kaya untuk memelihara organ-organ tersebut. Juga jaringan-jaringan mendapatkan oksigen, nutrisi-nutrisi yang dapat menyembuhkan dan hormon-hormon termasuk endorfin, yang merupakan hormon alami tubuh untuk menghilangkan rasa sakit.

Dengan cara melilitkan gelang pada pergelangan tangan atau dikalungkan di leher anda atau bisa juga ditempelkan pada bagian tubuh yang sakit.  Adapun, manfaat dari gelang atau kalung biomagnetik adalah sebagai berikut :
  1. Menyembuhkan Sakit kepala, Sakit Gigi, Flu, Sakit Perut, Bisul, dan Proses penyembuhan luka cepat
  2. Percobaan lain menggunakan gula atau garam atau bisa juga air jeruk. Hasilnya, setelah sekitar 30 menit diletakkan di atas kalung Bio Magnet, masing-masing berkurang rasanya. Gula berkurang manisnya, garam berkurang asinnya dan air jeruk berkurang kecutnya. Luar biasa! Coba letakkan rokok Anda di atasnya, dari hasil penelitian, hal ini akan mengurangi kandungan kadar nicotin rokok Anda!
  3. Percobaan serupa bisa dilakukan juga pada minuman beralkohol (untuk mereduksi prosentase alkohol), rokok (untuk mereduksi prosentase nikotin) dan lain-lain. Juga ada beberapa percobaan lain yang lebih luar biasa namun sulit untuk digambarkan di sini. Seperti misalnya empat orang mengangkat satu orang, masing-masing pengangkat hanya menggunakan dua jari telunjuk kiri-kanan hanya dalam waktu 5 detik setelah mengenakan BioMagnet. Hal ini membuktikan bahwa kalung Bio Magnet mampu menambah kekuatan sampai 40% tenaga anda.
Prinsip kerja yang lain adalah Medan Magnet dapat memberikan efek pemanasan dan Resonansi. Pemanasan artinya memberikan efek hangat, paparan energi terhadap sel-sel tubuh, cairan tubuh, organ dan darah. Resonansi berarti memberi efek ikut bergetarnya molekul-molekul zat pembentuk tubuh (ingat: 70 pembentuk tubuh adalah air).

Efek lain dari Gelang/Kalung BioMagnet ini dapat membunuh bakteri, menetralisir racun, membersihkan kotoran. Setiap saat darah dipompa keluar masuk jantung. Darah mengalir melalui pembuluh darah. Medan Magnet dari gelang/kalung yang kita pakai senantiasa memberikan energi dan resonansi sebagaimana yang dijelaskan di atas.

III. PENUTUP
Biomagnetisme merupakan fenomena medan magnetik yang dihasilkan oleh organisme hidup. Medan magnetik pada manusia bisa terjadi apabila kita menahan nafas dan bernafas halus, sehingga dapat mempolarisasikan ion fe (besi) yang ada di dalam darah merah (hemoglobin). Dengan melakukan kegiatan olah nafas ini, maka manusia bisa meningkatkan dan mengatur medan magnet yang ada di dalam dirinya, yang pada akhirnya juga bisa membantu manusia untuk menjaga kesehatan dan mengobati penyakit yang ada dalam dirinya.

Saat ini, telah banyak berkembang terapi biomagnetik. Dimana, terapi biomagnet adalah jenis terapi alami untuk penyembuhan dan menjaga kesehatan menggunakan medan magnetik yang sudah digunakan sejak ribuan tahun yang lalu oleh orang-orang Cina, Mesir, Arab, Yunani, Roma, dan India. Terapi biomagnet modern melalui riset dan teknologi canggih dikemas berupa gelang dan kalung titanium bermagnet neodymium. Gelang biomagnet dan kalung biomagnet merk Biomagworld buatan Amerika Serikat sangat praktis digunakan sehari-hari, tidak menggunakan batere dan listrik, tidak habis dipakai, dan menambah gaya penampilan (fashionable) dan memberikan manfaat bagi kesehatan pemakainya.

DAFTAR PUSTAKA
Prof. Ir. Lilik Hendrajaya. 2008. Memahami Tenaga Dalam Sebagai Tenaga Medan Biomagnetik dan
Bioelektromagnetik.. Badan Penelitian dan Pengembangan, Departemen Pertahanan. 
Hendrajaya, L 2005. Kecerdasan Magnetik. Kedeputian Bidang Perkembangan Riset Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.


Share this article :
Ditulis oleh: Altri Ramadoni Fisika Islam Updated at : 18:09

0 komentar:

Post a Comment

 
Support : Kontak | Privasi | Tentang
Copyright © 2017. Fisika Islam - All Rights Reserved
Temukan Kami di Facebook @ Fisika Islam